Oleh: antimurtad | Februari 5, 2008

Muqtada Al-Sadr

al-sadr2.jpgMuqtada Al-Sadr ibarat tokoh lokal di Tanah Air yang melawan penjajahan Belanda, Inggris, Portugal, maupun aksi polisionil (pendudukan) Belanda, serta pendaratan tentara sekutu di Surabaya. Sedangkan Iyad Allawi ibarat pemerintahan boneka yang dibentuk Belanda di masa revolusi dulu. Lalu, kita begitu heroik menentang kolonialisme dalam segala bentuknya. Karena itu kita memprakarsai Konferensi Asia Afrika yang menghasilkan kemerdekaan banyak negeri di dua benua itu.

Namun, kini dalam sejarah mutakhir, pendudukan dan penjajahan menjadi kabur. Semua ini akibat terhipnotisnya kita oleh jargon dan slogan terorisme maupun perdamaian global. Padahal ujung dari semuanya adalah sama: eksploitasi sumberdaya alam suatu negeri oleh negeri asing. Namun kita, bahkan dunia, tak bisa berdaya upaya dengan yang terjadi di Irak maupun Afghanistan.

Akibat globalisasi informasi dan perdagangan, dunia ketiga benar-benar tak berdaya. Kesadaran dan pemahaman kita tentang makna Revolusi Prancis — liberte (kebebasan), egalite (persamaan), fraternite (persaudaraan) yang menginspirasi nation-state di dunia — makin terserak. Dekalarasi Universal HAM dan Piagam PBB menjadi benda usang. Ekonomi suatu negeri bisa digoyang jika tak menuruti ‘arus dunia’ ini akibat integrasi ekonomi dunia, yang dikendalikan segelintir negeri.

Muqtada Al-Sadr mencoba bersembunyi di wilayah yang tersisa: kawasan yang disucikan yang menghela segala emosi. Ia bertahan di kawasan tua yang terdapat Masjid Imam Ali dan kuburan Ali bin Abi Thalib RA. Ali adalah kemenakan dan juga menantu Rasulullah SAW. Ia salah satu dari empat Khulafaur Rasyidin dan juga figur sangat penting dalam hierarkhi imamah Syiah. Al-Sadr mencoba berlindung di balik semua itu. Tentara Amerika semula mencoba merangsek, namun kemudian mengubah siasat setelah rakyat Irak mengutuk tindakan Amerika tersebut. Apakah suatu saat Amerika akan nekat memburu Al-Sadr dengan menerobos kawasan itu?

Kita telah menyaksikan, sudah terlalu banyak masjid yang dibom di Irak, Palestina, Bosnia, Afghanistan. Juga dibakar dan dirusak di Australia, Amerika, dan sejumlah negeri Eropa. Kita tak membayangkan apa reaksi dunia jika hal itu terjadi di umat lain, apalagi sampai mengotori kuburan junjungan mereka. Ini bukan soal primordialisme, tapi lebih karena penghormatan terhadap sejarah dan peradaban. Kita pernah menyaksikan salah satu jembatan yang dilindungi PBB, Stari Most di Mostar, Bosnia-Herzegovina, dihancurkan pasukan Kroasia. Jembatan dari batu yang melambangkan peradaban Islam di Eropa itu hanya menyisakan fondasi di tepi sungai — kini sudah direkonstruksi lagi.

Kita juga telah mengenal tipu muslihat kolonialis-imperialis, misalnya tipudaya terhadap Pangeran Diponegoro. Ia dipancing keluar untuk diajak berunding dan ujungnya ditangkap dan diasingkan. Sentot Alibasya, panglima perang Diponegoro, justru diperdaya untuk memerangi kaum Paderi di Minangkabau — dan akhirnya menyadari tipu muslihat itu. Namun kini batas antara bandit dan pahlawan menjadi sangat kabur. Ini karena pemahaman dan kesadaran kita telah disilapkan dari akar sejarah. Kita sering tak percaya diri dengan kekhasan dan keunikan — walau kita tetap tak boleh chauvinis dan xenophobia, karena ada tata nilai universal.

Kasus Al-Sadr mengingatkan masa lalu kita. Namun, kini, ia tak lagi memiliki pembela di belahan dunia lain. Ia hanya dianggap si anak nakal, pemberontak kecil, dan kriminal. Tak ada lagi semangat Asia-Afrika. Tak ada lagi pengakuan tentang eksistensi semangat Revolusi Prancis. Pemerintahan boneka justru diakui sebagai pemerintahan transisi dengan moncong senjata Amerika di sisi. (RioL)

Setelah Dua Minggu Bertempur, Al-Sadr Tawarkan Gencatan Senjata

Setelah hampir dua minggu bertempur dengan pasukan AS, pimpinan pejuang Al-Mahdi, Moqtada Al-Sadr akhirnya bersedia mengakhiri pertempuran di kota suci Najaf. Namun Al-Sadr mengajukan persyaratan agar dilakukan gencatan senjata, sampai pasukannya meninggalkan komplek pemakaman Imam Ali, tempat pasukan Al-Sadr bertahan dari gempuran pasukan AS.

Indikasi akan menyerahnya pasukan Al-Sadr sudah berhembus disela-sela pelaksanaan konferensi nasional Iraq di Baghdad, setelah konferensi ini mengirim delegasi khususnya untuk bertemu Al-Sadr. Seorang staff penyelenggara konferensi mengaku menerima surat dari Al-Sadr yang isinya antara lain menerima persyaratan yang diajukan konferensi tersebut. Termasuk kemungkinan adanya tawaran pemberian amnesti sebagai bagian dari proses politik. Meskipun saat kunjungan delegasi konferensi nasional, Al-Sadr menolak bertemu dengan alasan keamanan dan mempertanyakan tujuan kedatangan delegasi tersebut.

Berkaitan dengan kemungkinan menyerahnya Al-Sadr, juru bicara pasukan Al-Mahdi Sheikh Hassan Al-Zerkani membenarkan tawaran dari pimpinannya, untuk mengakhiri pertempuran. Tapi harus ada jaminan dari pasukan AS soal gencatan senjata dan jaminan bahwa pasukan AS tidak akan menangkap para pejuang Al-Mahdi.

Menjawab permintaan Al-Sadr, Kementerian Pertahanan Iraq menyatakan pihaknya akan memberikan amnesti bagi Al-Sadr dan pengikutnya dengan syarat mereka harus menghentikan serangan di kota Najaf dan kota-kota lainnya.

Ditengah-tengah isu akan menyerahnya Al-Sadr, kota Najaf belum sepi dari bunyi senjata api yang memuntahkan rentetan peluru. Laporan BBC menyebutkan nyala api dari persenjataan masih terlihat saat malam hari. Polisi juga terus mengingatkan warga Najaf agar tetap di dalam rumah. Tidak ada tanda-tanda akan dilakukannya gencatan senjata. Tawaran Al-Sadr untuk menghentikan pertempuran juga masih dipertanyakan keseriusannya.

Sementara itu, stasiun TV Al-Jazeera menayangkan sebuah video tape berisi ancaman kelompok bersenjata Brigade Martir yang menyatakan akan membunuh wartawan asal AS Micah Garen kalau pasukan AS tidak segera keluar dari kota Najaf.

Dalam tayangan tersebut, terlihat seorang laki-laki berkumis sedang jongkok, sementara dibelakangnya terdapat 5 orang mengenakan penutup wajah dan bersenjata.

Garen adalah pendiri dan kepala dari Four Corners Media, yang dilaporkan diculik hari Jumat pekan kemarin bersama seorang warga Iraq yang menjadi penerjemahnya di sebelah selatan kota Nasiriya. (ln/bbc/eramuslim)

Kelompok Al-Mahdi Berhasil Tewaskan 3 Tentara Inggris

Kini giliran tentara Inggris yang merasakan dahsyatnya gempuran tentara Al-Mahdi. Tercatat 3 serdadu Inggris tewas di Basrah, Selasa (17/8) siang, setelah bentrok senjata antara militer Inggris dengan kelompok Al-Mahdi.

Dalam kontak senjata itu pihak Al-Mahdi berhasil meluluhlantakkan dua mobil inetelejen Inggris dan satu mobil jep. Akibatnya, 3 awak di kendaraan itu tewas seketika. Demikian menurut keterangan yang dihimpun Mafkarah AL-Islam dari sejumlah saksi mata.

Selain itu, satu warga sipil tewas dan 6 lainnya luka-luka serta 3 mobil sipil ikut terbakar dalam kontak senjata itu. Pihak Inggris sendiri akui atas peristiwa baku tembak itu, namun seperti biasa mereka belum mengumumkan kerugian yang dideritanya.

Menurut keterangan Dephan Inggris disebutkan bahwa mobil-mobil milik intelejennya itu sebenarnya adalah milik sebuah perusahaan asing.[sumber: lys/im/eramuslim]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: