Oleh: antimurtad | Maret 25, 2008

Lima Tahun Agresi Amerika, “Japanisai” Sebatas Utopia

bush_face1-s.jpgirak_5years.jpgPada Kamis, 20 Maret 2008, lengkap lima tahun umur agresi AS dan sekutunya ke Iraq yang dimulai 20 Maret 2003. Selama rentang waktu lima tahun tersebut negeri bekas Kerajaan Babilonia itu masih tetap berdarah-darah.

Janji Washington untuk mewujudkan Iraq baru yang demokratis, makmur dan maju sebagai percontohan di dunia Arab nampaknya masih ibarat “jauh panggang dari api” Sementara lebih dari sejuta rakyat negeri itu dilaporkan tewas dan empat juta lainnya masih hidup di pengasingan di luar negeri terutama di negeri-negeri jirannya.

Mengenang lima tahun tragedi di Iraq ini, mari kita mengilas balik ke belakang sebelum serangan dilakukan. (watch 5 years Iraq report )

Sekitar lima bulan sebelum serangan dilakukan, DPR AS menyetujui penggunaan kekuatan militer untuk mengenyahkan rezim Saddam.

Persetujuan itu juga mencakup strategi pembangunan kembali Iraq pasca Saddam dengan cara-cara yang sama dengan yang pernah dilakukan Washington setelah Perang Dunia II selesai.

Sebagai “aktor” yang direncanakan mengganti rezim Saddam untuk memimpin pemerintahan militer Iraq adalah Pangab AS, Jenderal Tommy Frank yang secara terang-terangan saat itu mengakui rencana tersebut.

Dengan demikian, misi yang akan diemban Frank mirip dengan misi yang pernah dilakukan oleh pendahulunya, Jenderal Douglas Mc. Arthur, yang berhasil mengubah Jepang dari negara militer menjadi negara industri terkemuka dunia.
Dengan kata lain, Iraq pun dicanangkan menjadi Jepang kedua (Japanisasi Iraq). Sebuah gambaran yang “menggiurkan” dari negara Arab yang lebih konsentrasi pada kekuatan militer sehingga dianggap menjadi ancaman langsung Israel menjadi negara industri maju yang demokratis di Arab.

Untuk tujuan itu, negeri Paman Sam tersebut menurut sejumlah pakar militer saat itu sedikitnya harus menyediakan sekitar 75 ribu pasukan pendudukan di Iraq dengan anggaran sekitar 16 miliar dolar/tahun. Kenyataan lapangan di lapangan personil dua kali lipat dari perkiraan tersebut sementara anggaran yang telah dikeluarkan sejak serangan hingga 2008 ini paling sedikit 800 milyar dolar.

“Bila digabung dengan biaya operasi di Afghanistan dan pengobatan tentara-tentara yang luka anggaran membengkak mencapai 1,5 triliun dolar belum lagi kerugian tersembunyi berupa kenaikan harga minyak dunia tiga kali lipat (akibat merosotnya nilai dolar),” Abdul Jalil Al-Na’imi.

Menurut analis Arab asal Bahrain itu dalam artikelnya di harian Al-Bayan, Uni Emirat Arab, Senin (17/3/08), dengan membengkaknya anggaran perang tersebut setiap keluarga di AS (rata-rata beranggotakan empat orang) terbebani 20 ribu dolar.

Sebagian pengamat saat itu setengah memastikan bahwa rencana “Japanisasi” Iraq terkesan lebih mudah ketimbang yang pernah dilakukan saat menaklukkan Jepang pada Perang Dunia II.

Persamaan
Untuk mengetahui bisa tidaknya Iraq bisa diubah menjadi “Jepang Arab” bila AS dan sekutunya serius mengupayakan kea rah tersebut adalah terlebih dahulu mengetahui persamaan antara kedua negara menjelang perubahan yang dilakukan AS.

Bila melihat kondisi Negeri 1001 Malam itu dalam dua dasawarsa ini dengan kondisi negeri matahari terbit tersebut pada saat berkecamuknya Perang Dunia kedua, terkesan banyak kesamaannya.

Iraq yang berlimpah sumber alamnya terutama minyak (produsen terbesar kedua setelah Arab Saudi) telah berhasil digunakan sebagai modal untuk pengembangan industri dalam rentang waktu dua dekade sebelum embargo internasional diberlakukan tahun 1991.

Namun aset besar tersebut justeru lebih difokuskan pada pengembangan industri militer untuk membuat senjata pamungkas. Begitu juga halnya dengan Jepang sebelum perang dunia kedua (PD II) yang memiliki industri besar yang lebih difokuskan pada pengembangan industri militer.

Negeri Babilonia ini, menurut kesaksian PBB sendiri, memiliki banyak ilmuan di berbagai bidang, namun dimanfaatkan oleh rezim Saddam di bidang industri militer. Kondisi ini mirip dengan negeri Sakura sebelum PD II.

Sumber daya manusia (SDM) yang memadai plus sumber alam (SA) yang melimpah membuat Iraq sebagai calon paling ideal menjadi tempat akbar al-mashani al-arabiyah (pabrik Arab terbesar) ketimbang negara-negara Arab lainnya.

Persamaan lainnya yang bisa dicatat antara negeri Babilonia dan Sakura itu adalah, warga Iraq terkenal sebagai masyarakat petani yang menjunjung tinggi jiwa kebersamaan antar para petani. Sistem sosial ini juga dimiliki Jepang bahkan sebagai dasar bagi pembangunan industri-industri raksasa.

Iraq memiliki sejarah panjang dengan kemajuan masa lalu yang tersohor ke seantero dunia baik di bidang ilmiah maupun pemikiran. Bahkan hingga sebelum perang Teluk 1991 menjadi pasaran buku-buku ilmiah terbesar di seluruh Arab.

Hal serupa juga dialami oleh Jepang sebelum berhasil diubah oleh AS. Di sisi lain, Jepang dan Iraq memiliki kesamaan di segi pelestarian tradisi meskipun banyak kaum terpelajar yang “ditelorkan” sekolah-sekolah Barat.

Jumlah mahasiswa Iraq yang belajar di Barat sejak awal abad ke-20 hingga athun 1990-an terbesar dari seluruh negara Arab, namun tetap memelihara tradisi setempat sebagaimana halnya Jepang.

Negeri Abu Nawas tersebut berhasil beradaptasi dengan pemerintahan diktator sehingga tetap bisa menelorkan ilmuan, sehingga bisa menjadi negara Arab paling maju di bidang keilmuan hingga tahun 1991. Jepang juga berhasil beradaptasi dengan peraturan Mac Arthur sehingga menjadi negara industri terkemuka dunia.

Kuasai minyak
imageBerbagai persamaan antara Jepang dan calon negara “Jepang kedua” itu, sudah cukup untuk menjadikan Iraq sebagai calon “Jepang Arab” pasca pemerintah rezim Saddam Husein.

Namun yang masih diragukan kalangan pengamat dan publik Arab umumnya adalah apakah AS benar-benar rela mengubah Negeri 1001 Malam itu menjadi Jepang, atau invasi hanya sekedar untuk menguasai minyak Arab atau tujuan laten lainnya.

Keraguan tersebut cukup beralasan sebab kawasan Teluk memiliki cadangan minyak sekitar 60 persen dari total cadangan dunia dan sekitar 21 persennya adalah berada di perut bumi bekas pusat pemerintahan Khalifah Harun Al-Rashid itu.

Beberapa analis Arab menjelang serangan atas Iraq lima tahun lalu mengkhawatirkan hegemoni atas minyak dan pengubahan peta politik Timur Tengah.

“Selain menguasai minyak, kekhawatiran lainnya adalah mengubah peta politik kawasan yang sesuai dengan keinginan Zionisme,” ujar Dr. Salah Qallab saat itu.

Pengamat Arab asal Yordania yang banyak tampil dalam acara “talk show” di sejumlah stasion TV Arab itu, tak bosan-bosannya memperingatkan bahwa dalam kondisi negeri Adidaya itu dikuasai “lobby zionis”, sulit diharapkan perubahan ke arah yang lebih baik bagi bangsa Arab.

Hal senada juga sering dilontarkan Dr. Musthafa Alani yang menilai bahwa serangan terhadap Iraq bukanlah awal dari kebaikan negara-negara Arab bahkan sebaliknya yakni awal dari kehancuran.

“Kita harus sangsi dengan sikap keras Washington untuk menyerang Iraq. Yang sudah pasti adalah AS ingin mengubah peta politik kawasan yang menguntungkan sekutu utamanya yaitu Israel,” ujar pengamat Arab yang mukim di London itu.

Memasuki tahun keenam agresi AS dan sekutunya atas negeri produsen minyak terbesar kedua di dunia itu, kekhawatiran tersebut makin menjadi kenyataan. Lima tahun berlalu, adalah kesia-siaan dan kehancuran belaka bagi rakyat Iraq.

Secara ekonomis, perusahaan-perusahaan raksasa negeri adikuasa itu dan sekutunya sudah siap menguasai minyak dan memonopoli pembangunan infrastruktur bila situasi keamaan nantinya kondusif.

Secara politis Iraq dapat menjadi pusat pengebaran pengaruh zionisme agar Arab makin bertekuk lutut kepada Israel dalam upaya menciptakan “perdamaian” yang sesuai kehendak Tel Aviv dan Washington.

Sementara potensi Iraq untuk menjadi “Jepang Arab” seperti dijelaskan diatas sudah memadai. Permasalahannya terpulang ke AS, yang tidak rela Iraq berubah menjadi Jepang sehingga”japanisasi” Iraq hanya sebatas utopia belaka. (hidayatullah)

Oleh Musthafa Luthfi*

Penulis lepas, mantan wartawan ANTARA. Kini sedang bermukim di Yaman

(swaramuslim)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: