Oleh: antimurtad | Mei 16, 2008

Pendiskriminasian Emigran Muslim di Belanda

Kaum Muslim Belanda masih diperlakukan diskriminatif. Human Rights Watch baru-baru ini mengusulkan pencabutan ujian integrasi (Inburgeringsexamen)

Inburgeringsexamen (Ujian untuk beradaptasi di Belanda) merupakan prasarat yang harus ditempuh oleh orang asing yang akan tinggal lebih dari 3 bulan di Belanda. Ujian ini harus dilakukan di negara pendatang sebelum mereka mendapatkan visa. Emigran muslim (Turki dan Marokko) diwajibkan untuk menempuhnya dan terkesan dipersulit, demikian kesimpulan dari HRW (Human Rights Watch) pada presentasinya kamis kemarin.

HRW berpendapat bahwa pelaksanaan ujian di negara emigran, mengarah pada langkah diskriminasi terhadap penyatuan keluarga emigran di luar negara Barat. Contohnya para emigran dari anggota negara EU (European Union), Amerika, Australia dan Jepang, mereka tanpa wajib menempuh ujian sebelum datang ke Belanda.

Sejak maret 2006 para emigran di luar negara barat, diwajibkan menempuh ujian tersebut di negaranya masing-masing, yang mana mereka harus menguasai bahasa Belanda dan mengenal kulturnya. Ujian biasanya dilakukan melalui telpon.

HRW juga menganggap bahwa Belanda telah mempersulit kumpulnya keluarga dari kelompok tertentu. Peraturan ini menyebabkan kondisi keluarga menjadi terpisah dan disinyalir tertuju pada orang-orang tertentu, ujar Holly Cartner, yang mana beliau ini berperan dalam organisasi hak-hak kemanusiaan di Eropa.

Semenjak pemberlakukan ujian tersebut pengajuan akan penyatuan keluarga dari Turki dan Marokko drastis menurun, ungkap HRW. Hal ini tak hanya disebabkan oleh prasarat kemampuan berbahasa Belanda, namun juga beratnya biaya yang ditanggung untuk menempuh ujian per modulnya sebesar 350 euro per-ujian (Rp 4,8 jutaan dg kurs BI)

Human Rights Watch mengusulkan kalau ujian-ujian integrasi yang dilakukan di luar Belanda harus segera dicabut. Karena dasarnya tidak jelas, kenapa beberapa kelompok emigran harus menempuh ujian dan yang lainnya tidak? Dengan pembagian ini akan membedakan mana yang barat dan bukan. Hal ini merupakan langkah awal untuk lebih mengasingkan mereka daripada berintegrasi ke masyarakat Belanda.

Organisasi emigran Marokko (SMN) sependapat dengan kesimpulan HRW ini. Menurut mereka: ujian ini tak berpengaruh besar terhadap integrasi. Dengan mempersulit mereka masuk ke Belanda maka justru memperlambat proses integrasi dari anggota keluarga di Belanda.

Defence for Children juga melemparkan kritik yang sama, mengingat tak sedikit anak-anak yang harus terpisah dengan orang tuanya, dengan pemberlakuan aturan tersebut.

Kondisi di atas jauh berbeda dengan datangnya beberapa warga negara Polandia (salah satu anggota EU) ke Belanda. Dari sekitar 15.000 warganya, seperempatnya ingin menetap di Belanda. Dan rata-rata pemahaman mereka terhadap bahasa dan cultur Belanda jauh dari standard Ujian yang harus ditempuh oleh para emigran muslim.

Jadi jangan heran bila anda bertandang ke Belanda suatu saat berjumpa dengan orang berambut pirang namun bahasa belandanya jelek dan tingkah lakunya berbeda dengan masyarakat Belanda pada umumnya. Aneh tapi nyata bukan? Kemana arah integrasi sebenarnya? [Aziz (Belanda) dari beberapa sumber/www.hidayatullah.com]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: