Oleh: antimurtad | September 19, 2008

“Bagdad Calling”, Rekaman Terpanas dari Iraq

Lebih 130 reporter tewas sejak invasi Amerika tahun 2003 di Iraq. Wartawan foto Belanda, Geert van Kesteren, membuat buku rekaman Iraq yang bahannya dari warga Iraq sendiri

Iraq merupakan daerah terpanas bagi wartawan di bumi ini. Lebih dari 130 reporter tewas sejak invasi Amerika Serikat pada tahun 2003. Akibatnya, sedikit saja jurnalis Barat mau pergi ke sana untuk melaporkan tragedi kemanusiaan yang telah menyebabkan, hampir seratus ribu orang tewas, dan sekitar empat juta orang mengungsi.

Satu dari beberapa peliput Iraq, sebelum dan sesudah invasi, adalah Geert van Kesteren, seorang wartawan foto terkemuka di Belanda. Pada tahun 2005, ia menyadari terlalu bahaya kembali ke Iraq. Ia mengakalinya dengan melakukan perjalanan ke Suriah, Yordania dan Turki, supaya bisa berbincang dan memotret pengungsi Iraq.

Suatu malam ketika sedang mewawancara beberapa dokter Iraq di ibukota Amman, Yordania, seseorang dari mereka menunjukkan foto temannya yang diambil lewat handphone. Sang teman, juga seorang dokter, terluka akibat peluru nyasar di Falluja dan kemudian meninggal. Gambar via telpon selular itu, menjadi inspirasi buku Kesteren terbaru Baghdad Calling.

Jurnalisme publik
“Orang-orang di Bagdad membuat foto dengan telpon genggam,” kata Geert van Kesteren. Potret-potret menunjukan kebun, anjing dan keluarga. Kadang suasana kelam di jalan juga dikirim ke saudara di luar negeri. “Ini menjadi semacam jurnalisme publik dan jauh lebih menarik ketimbang gambar yang saya ambil sendiri,” tambahnya lagi.

Van Kesteren menerima ribuan foto lewat Hp, situs pertemanan Facebook dan ruang obrol eletronik chat Iraq. Ia terkesima mendapati antusias orang untuk berbagi.

Baghdad Calling memperlihatkan potret pesta-pesta keluarga dan keceriaan bersama teman sambil mengangkat minuman. Gambar lain yang menyita perhatian adalah di mana sebuah keluarga Muslim merayakan natal. Dalam foto, hampir seluruh keluarga mengenakan penutup kepala Santa Claus.

Buku karya Geert van Kesteren tidak melulu menampilkan sisi cerah Iraq. Beberapa gambar mempertontonkan kegelapan perang. Ada bangunan hancur akibat bom, jembatan remuk, jalan-jalan penuh sampah, dan tulang-tulang putih manusia di tepi lintasan. Warga begitu takut kepada milisi sampai tidak berani memindahkan mayat. Situasi tersebut paling tercermin lewat foto sejumlah jasad yang tangannya terikat di belakang, matanya ditutup kain, dibuang di sebuah ladang.

Tebusan
Telpon selular membuat warga Iraq tetap bisa saling berhubungan kendati sudah dalam perantauan.

Tapi ia pedang bermata dua. Sewaktu-waktu handphone bisa berbunyi mengabarkan kematian kerabat tercinta atau penculikan terhadap anggota keluarga.

“Para penculik pertama-tama berkata, bisa nggak anda bayarin pulsa ini,” kata Kesteren mengutip kisah seorang keluarga Iraq. Memang terdengar gila. Tapi kenyataannya demikian. Si penculik sama sekali tak mau mengeluarkan uang sepeserpun, kendati mereka menelpon menuntut uang tebusan. Dua tahun lalu, jika memenuhi permintaan, maka yang diculik pulang bernafas. Tapi sekarang, membayar tebusan hanya supaya bisa memakamkannya secara layak.

Kamera Hp
Baghdad Calling sebuah rekaman unik kesehari-harian Iraq dari tahun 2005 sampai 2007. Ini juga pertama kali denyut wilayah akibat perang dirangkum lewat telpon genggam. Geert van Kesteren yakin kegunaan barang gaul tersebut bakal terus meningkat dalam mendokumentasikan kehidupan, bukan hanya di Iraq tapi di daerah konflik lainnya.

Potret-potret kekejaman di Abu Ghraib dibuat dengan handphone. Begitu pula film dan gambar penggantungan Saddam Hussein.

“Dia bercerita, menjelaskan kisah, memberitahu apa yang salah, apa yang benar. Dia memainkan peran sangat penting melindungi hak-hak azasi manusia dengan mengatakan apa adanya, karena yang buat orang biasa,” tukas wartawan asal Belanda ini.

Fotografer profesional cenderung memilih foto bagus –kadangkala perlu diolah supaya kian dramatis– tetapi tidak mencerminkan 100 persen kenyataan. “Satu sisi, ya, itu alat penting untuk perlindungan hak-hak azasi manusia, di sisi lain, tidak, sebab turut dipakai menyajikan propaganda,” ujar Kesteren. [diambil dari Situs Radio Netherlands Worldwide/www.hidayatullah.com]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: