Oleh: antimurtad | Januari 8, 2009

Antara Gaza, Grace, TV One Dan Karni Ilyas?

 

Dalam Apa Kabar Indonesia Pagi Senin 5 Januari 2009, dengan halus Indriarto Priyadi dan terutama Grace Natalie mencoba menggiring opini pemirsa bahwa Israel “terpaksa” menyerang. Mereka berbincang bahwa Israel tak akan berhenti menyerang jika serangan roket Hamas tak dihentikan. Dalam sesi pertama dengan pengamat Bantarto Bandoro, pembicaraan berkutat pada Hamas yang memang mengganggu dan “memancing” serangan Israel dengan serangan roket ke negeri zionis itu.

Pengamat internasional CSIS itu juga menyebut bahwa perang akan berlangsung lama karena -tidak seperti agresi Israel ke Lebanon yang dipukul Hizbullah dan “ditengahi” pasukan PBB- Hamas menolak kehadiran pasukan perdamaian. Opini pemirsa pun tergiring kepada kesimpulan: Israel menyerang karena kesalahan Hamas dan serangan akan terus berlanjut karena Hamas dengan degil menolak campur tangan internasional PBB.  Kerja tim yang baik antara Indriarto, Grace dan sang pengamat CSIS.

Menjelang sesi berikutnya, wawancara dengan KH. Ahmad Satori dari Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Indriarto membuka dengan menyebutkan seruan boikot produk “yang katanya” dari Amerika oleh beberapa kelompok (Muslim tentu saja). Ungkapan agak sinis ini kemudian ditimpali Grace, “padahal mereka suka menggunakan produk itu.” Sebuah judgement bahwa kelompok Muslim yang menyerukan boikot produk Amerika sebenarnya justru pecinta produk itu.

Sekitar dua hari sebelumnya, dalam sebuah ilustrasi tentang sejarah konflik di Palestina, narator TV One menyebutkan bahwa tanah Palestina dikuasai Israel setelah gerilyawan Israel berhasil memaksa Inggris-yang diberi mandat oleh PBB- hengkang dari sana. Ini adalah kedustaan yang bodoh dan buta sejarah. Kenyataannya Inggris sejak 1917 memang berencana memberikan tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel oleh kelompok zionis Yahudi. Deklarasi Balfour dengan jelas membuktikan kedustaan ini.

Ada juga penayangan rekaman video dari pihak Israel yang mengebom sebuah masjid. Serangan keji yang menghancurkan rumah ibadah dan menewaskan jamaahnya ini dilakukan dengan alasan masjid menjadi gudang penyimpanan roket-roket Al-Qassam. Ada cuplikan menarik dalam video itu, setelah ledakan bom pertama ada ledakan kedua ( secondary explosion ) yang diberi tanda dan catatan oleh editor video Israel. Hal itulah yang diklaim sebagai “bukti” adanya roket di dalam masjid. Yang menggelitik, cuplikan itu selalu diulang-ulang oleh TV One dalam tayangan berita tentang serangan Israel.

Beberapa poin di atas menunjukkan adanya upaya penggiringan opini oleh TV One. Yaitu agar publik di Indonesia, termasuk umat Muslim, yang mengutuk serangan brutal dan keji Israel menjadi “memaklumi.” Pertanyaannya, kenapa hal itu dilakukan TV One?

Jauh sebelumnya, Grace Natalie juga melakukan penggiringan opini dalam berita kasus terorisme Palembang. Grace, yang “meninjau” lokasi pesantren yang dituduh menjadi sarang dan tempat latihan tersangka teroris Palembang, melengkapi laporannya dengan ilustrasi bahwa pesantren itu “aneh” karena hanya memiliki sepuluh santri.

Kalau saja Grace seorang Muslim, atau rajin mengamati pesantren-pesantren kecil di pedesaan, niscaya ia akan menemukan pesantren (rintisan tentu saja) yang hanya memiliki lima, empat, tiga atau bahkan satu santri saja. Keheranan seorang Grace yang bukan Muslim dan tidak memahami dunia pesantren memang wajar. Namun komentar bodohnya bahwa hal itu “aneh” memberi bobot bagi penggiringan opini bahwa pesantren adalah sarang teroris.

Tapi terlepas dari hal tadi, Grace Natalie dan TV One memang hebat. Liputan mereka tentang kasus terorisme selalu berhasil mencapai level eksklusif. Saat para wartawan di Yogyakarta tak bisa mendekati rumah tempat Mbah alias Zarkasih ditangkap, Grace malah terlihat ada di mobil Densus 88 yang melakukan penangkapan. Tak heran jika dalam pemberitaan penangkapan tersangka teroris di Palembang pun Grace bisa masuk rumah salah satu tersangka dan memamerkan “temuannya,” sebilah pedang samurai yang biasa dijajakan di kakilima. Tak begitu dahsyat, tapi lumayan, bisa menambah bobot penggiringan opini bahwa itu memang rumah teroris.

Bos Grace, Karni Ilyas, malah lebih hebat lagi. Pada saat penangkapan Amrozi, ia melaporkan langsung dari TKP, padahal posisinya waktu itu Pemred SCTV. Demikian juga saat penyerbuan di Batu yang berakhir dengan kematian Dr. Azahari, Karni yang waktu itu Pemred Anteve melaporkan langsung dari TKP. Di mana ada kasus terorisme besar yang terungkap, di situ pasti ada Karni Ilyas atau anak buahnya -salah satunya Grace Natalie. Hubungan Karni yang dekat dengan Komjen. Gories Mere membuatnya selalu mendapatkan liputan eksklusif tentang operasi Densus 88.

Jangan lupa juga bagaimana reporter TV One (waktu itu masih bernama Lativi) Alfito Deannova berhasil mengajak Ali Imron -terpidana seumur hidup kasus Bom Bali yang seharusnya meringkuk dalam penjara- jalan-jalan menapaktilasi lokasi persiapan dan pelaksanaan Bom Bali. Ali memang fenomenal, saat kawan-kawannya meringkuk dalam sel, ia malah bisa ngopi bareng Gories Mere di Kafe Starbucks yang di yakini salah sebuah usaha milik jaringan zionis internasional.

Ketika hal itu memicu kegemparan, Gories beralasan bahwa Ali dibon untuk mengungkap jaringan teroris. Ini masih masuk akal, Gories memang berwenang melakukan berbagai upaya dalam penyidikan. Namun bagaimana bisa TV One “mengebon” Ali yang napi untuk acara eksklusifnya? Lagi-lagi stasiun televisi yang sahamnya dimiliki oleh taipan media keturunan Yahudi Rupert Murdoch -melalui Star TV Group-  ini memang hebat.

Okelah, bisa jadi Karni Ilyas berniat baik, memfasilitasi Polri dengan stasiun televisi tempatnya bekerja dalam kampanye pembentukan opini memerangi terorisme di Indonesia. Biarlah kelompok Muslim dan pesantren yang sempat menjadi sasaran kampanye itu marah dan sedih, toh mereka masih bisa membantah, ini negeri demokrasi tempat pendapat bebas diumbar kan?

Tapi sangat jahat kalau Hamas, Muslim Palestina dan bangsa terjajah itu kemudian dihalangi dari dukungan Muslim dan bangsa Indonesia. Yaitu dengan membentuk opini bahwa Israel tidak salah kalau menyerang mereka. Salah mereka sendiri melakukan perlawanan terus-menerus pada penjajah zionis yang jauh lebih kuat. Ini adalah kampanye terselubung mendukung kekejian zionisme.(msldly)


Responses

  1. Begitulah, media indonesia dikuasai uang Barat bo.
    MetroTV aja pernah dalam satu tayangannya tidak berani menyebut nama Israel tapi Ibrani.
    Naudzubillahimin dzalik deh.

    http://jerman90.wordpress.com/2008/03/19/perampokan-terbesar-abad-20/

  2. entah siapa yang salah, tapi apakah kita rela jika (katakanlah) negeri Indonesia dicaplok oleh bangsa asing yang mengklaim negeri kita sebagai negeri mereka?

    terus berbagi cerita

  3. yang pasti sih, mereka mencoba untuk melihat dari sisi lain terhadap sebuah berita. tapi memang persepsi setiap orang tentunya berbeda2. dan, sepertinya itu yang ditampilkan oleh tvOne, karni ilyas, dan rekan2nya.

    still, menurut saya pribadi, hal itu seharusnya jangan dijadikan chance untuk menjudge bahwa hamas salah, sehingga PBB tidak bisa masuk. karena jelas2, israel itu SALAH. karena agresi dan serangan ke negara lain itu jelas2 melanggar aturan perdamaian.

    hmm.. itu menurut saya sih. sekedar opini.

  4. FFI indonesia bangkit lagi..

    coba mas cek😉

    trims !

  5. iya grace siring bgd mengarahkan pembicaraan ke arah dimana “Israel seakan2 tidak berbuat salah”,ya wajar2 saja tv one seperti itu,kan dulu pas masih lativi,saat mau bangkrut,diberi bantuan dana dr luar….

    Indonesia pun semakin diserang oleh organisasi pengkristenisasi asia..

    makin hari fitnah makin kejam…

    jangan ragukan agamamu…
    dan jgn jual IMAN mu….

  6. ternyataaa……

    berengsek juga….

  7. YAhudi memang brengsek……

  8. benarkah kayak gitu??? maasya Allah….

    ya allah….Allahumma arinal haqo haqqo…
    wa arinal bhaatila….bhaatila…

  9. tvone punya Rupert Murdoch -melalui Star TV Group- ??? cek dulu kali.
    cek dulu dehh please … ya. apa bukan si aburizalbakrie ?
    yang diakuisisi ama Startv itu ANTv.

    – mari mulai lupakan KFC, McD, CFC dan starbucks –

  10. televisi nasional indonesia siapapun pemiliknya, selama ini sudah dikuasai bangsa yahudi dan nasrani…
    tidak heran bila acaranya selalu mendeskriditkan islam, mereka membuat film, membuat tayangan yang selalu melecehkan islam…

    perhatikan saja, setiap ada iklan, reality show, atau konser apapun itu.. bahkan yang bertemakan islam sekalipun.. tanda salib dan bintang david atau setengah bintang david (piramida->lambang mason) secara samar atau terang-terangan selalu muncul…

  11. It’s hard to forget McDonald and Nokia,
    but i’ll try more hard to, in the name of God

  12. TV One memang hebat memutar balikan fakta..

  13. ini sebagai kritik agar TVone objektif

  14. saya tidak akan membahas tentang apa yang di bicarakan di atas tadi, akan tetapi saya akan merefleksikan kepada negara indonesia sendiri yang memang untuk akhir-akhir ini harus diwaspadai tentang kedaulatannya sebagai bangsa dan negara. kenapa? mengingat dari kasus sipadan dan ligitan, kemudian lautan ambalat dan juga budaya angklung, lagu daerah yang dengan sengaja telah direbut dengan jelas didepan mata kita. dan itu sebagai perebutan hak negara, yang diantara lainnya seperti halnya dengan perebutan wilayah atau tanah seperti yang ada di malaysia. kita wajib berjuang, dan mempertahankan negara ini. tapi pertanyaannya, apakah kita bisa?
    jawabannya pemerintah itu sendiri. udah dulu, besuk lanjut….

  15. Mohon di cross cek lagi, karena saya ada info bagus mengenai siapa owner TV One. setahu saya yang bener info mengenai kepemilikan TV One seperti ini:

    TvOne, nama baru Lativi

    Lativi, stasiun tv swasta nasional milik PT Lativi Media Karya, akan mengganti namanya menjadi tvOne bertepatan dengan hari Valentine, 14 Februari 2008.

    Menurut Erick Thohir, Direktur Utama tvOne, perubahan nama merupakan upaya strategi manajemen untuk memberikan sesuatu yang berbeda di industri pertelevisian Indonesia.

    Rencananya, tvOne akan melakukan perombakan dalam jenis tayangan yang akan disajikan. Nantinya, tvOne akan fokus pada tayangan berita, olahraga dan hiburan, sesuai moto barunya yaitu, Informasi, Olahraga dan Hiburan.

    Menurut Erick, untuk melakukan berbagai pembenahan internal termasuk program, tvOne telah menyiapkan alokasi dana sebesar Rp 1,3 triliun.

    Sedangkan segmentasi pasar akan diubah, dari menengah-bawah menjadi menengah-atas. Sinetron, yang menjadi primadona program di sejumlah televisi swasta, tak akan ada di TVOne.

    Jajaran manajemen tvOne antara lain Direktur Utama Erick Thohir, Wakil Direktur Utama Ardiansyah Bakrie, Direktur Pemberitaan, Olahraga dan Produksi Sukarni Ilyas, Direktur Teknik Alex Kumara, Direktur Keuangan Charlie Kasim dan Direktur Programming dan Marketing Otis Hahijary.

    Erick menjelaskan bahwa Star TV, raksasa media Hongkong milik Rupert Murdoch, tidak termasuk dalam struktur kepemilikan Lativi Media Karya. pemilik lama yakni bekas Menteri Tenaga Kerja Abdul Latief melepas kepemilikannya karena akan fokus pada bisnis inti usahanya yakni Pasaraya.

    Kepemilikan pun jatuh ke tangan Erick (Grup Mahaka) dalam konsorsium bersama dua pengusaha muda, Anindya Bakrie (Grup Bakrie) dan Rosan Perkasa Roeslani (Presiden Direktur Recapital).

    Sukarni Ilyas yang akrab dipanggil Karni Ilyas, Direktur Pemberitaan, Olahraga dan Produksi tvOne menjelaskan program tvOne, 70 persen dari slot yang ada di isi dengan informasi, baik berupa hard news, straight news, maupun berita yang in-depth, termasuk news-magazine.

    Salah satu terobosan yang masih dikaji adalah melakukan pemberitaan interaktif yang disajikan secara live, antara kantor pusat tvOne dengan kantor-kantor biro tvOne yang ada di berbagai kota di Indonesia.

    Direktur Keuangan tvOne, Charlie Kasim, mengungkapkan, komposisi kepemilikan saham terdiri dari PT Visi Media Asia sebesar 49%, PT Redal Semesta 31%, Good Response Ltd 10% dan Promise Result Ltd 10%, keduanya merupakan investor asing.

    Namun, komposisi kepemilikan saham di PT Lativi Media Karya pada bulan Maret 2008 akan dirubah. Baik Good Response dan Promise Result akan melepas sahamnya pada akhir Februari 2008 dan selanjutnya saham keduanya yang sebesar 20% akan dialihkan ke Visi Media Asia dan Redal Semesta.

    Setelah pelepasan saham Good Response dan Promise Result, komposisi kepemilikan saham di PT Lativi Media Karya akan menjadi PT Visi Media Asia sebesar 60% dan PT Redal Semesta 40%.

    Rencananya, pada akhir kuartal II 2008 tvOne akan melakukan penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO).

    dari buletinbisnis.wordpress

  16. Gw ga bisa ngejudge apa ini wajar apa engga..
    tapi satu hal yang sering dilupakan umat muslim adalah senjata apa yang paling ampuh melawan Zionis
    yaitu AlQurannulqariim..

  17. saya fahmi. reporter tv one yang liputan ke gaza. mohon maaf jika selama ini masih banyak kekurangan di tv one.

    saya sengaja googling untuk mencari kritik dan mendeangarkannya sebagai masukan.

    trima kasih. semoga ke depan tv one menjadi tv yang bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang.

    hormat saya kepada para pengkritik membangun…

    fahmi

  18. Sudah saat umat muslim menguasai media. Elektronik maupun cetak. Acara televisi kini kian memprihatinkan.

  19. ternyata ga cuma tv one, metro tv dll juga sama, buktinya semua beritanya sama. temanya sama persis, mulai dan berakhirnya biasanya di hari yang sama bro, coba deh perhatiin, untungnya tv dirumah gw sekarang lagi rusak, jadi keselnya berkurang nih. ga ada gunanya nonton tv termasuk berita sekalipun.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: