Oleh: antimurtad | Maret 27, 2009

AJARAN DAN DOKTRIN SESAT AHMADIYAH

kop

Di bawah ini adalah beberapa ajaran dan doktrin sesat Ahmadiyah (baik Qadian maupun Lahore) yang bersumber dari pendirinya, Mirza Ghulam Ahmad (MGA) dan para pengikut setianya. Setiap penyebutan Al-Masih yang dijanjikan bermakna MGA.

Akidah tentang Wahyu, Alquran, dan Penutup Para Nabi

“Aku bersumpah dengan Allah yang nyawaku dalam genggaman-Nya, Dialah yang mengutusku dan menamai aku nabi dan memanggilku dengan nama Al-Masih yang dijanjikan. Dan Dialah yang menurunkan bukti-bukti untuk menunjukkan kebenaran pengakuanku, yang jumlahnya mencapai tiga ratus ribu bukti.” (MGA dalam Tatimmah Haqiqah al-Wahy 68, RK 22/503).

“Dialah Tuhan yang sebenarnya, yang telah mengutus Rasulnya di Al-Qadian (tampat kelahirannya), dan sesungguhnya Allah menjaga Al-Qadiyan dan memeliharanya dari penyakit Tha’un meskipun ia berlangsung tujuh puluh tahun, karena aku tempat tinggal rasulnya, dan ini adalah tanda (kebenaran) bagi manusia.” (MGA dalam Dafi’ al-Bala 10, RK 18/330).
Dia mengatakan, “Sesungguhnya Allah menurunkan ayat-ayat untuk membuktikan kebenaran risalahku, yang sekiranya ayat-ayat itu dibagi kepada seribu nabi, niscaya cukuplah ayat tersebut membuktikan kenabian mereka semua, akan tetapi setan manusia tidak percaya hal ini.” (MGA dalam Jasymah Ain makrifah 317 RK 332).
“Adalah merupakan nikmat Allah bahwa para nabi itu senantiasa datang dan mata rantai mereka tidak terputus. Ini adalah peraturan Allah yang kamu tidak mampu menghadapinya.” (Diringkas dari Khithabat Sialkut 25 RK 20/22).
“Ali (Jibril) datang kepadaku lalu ia memilih dan memutar-mutar telunjuknya dan menunjuk aku dan mengatakan bahwa Allah menjagamu dari musuh.” (MGA dalam Mawahib ar-Rahman 66, RK 19/282).

“Demi Allah Yang Maha Agung, aku beriman kepada wahyu sebagaimana aku beriman kepada Alquran dan kitab-kitab lainnya yang diturunkan dari langit. Aku percaya bahwa ucapan yang turun kepadaku berasal dari Allah, sebagaimana aku percaya Alquran itu turun dari sisi-Nya.” (MGA dalam Haqiqah al-Wahy 221, RK 20/220).

Pahamilah apa itu syariah. Syariah ialah penjelasan tentang perintah dan larangan, orang melakukan itu dan menetapkan peraturan-peraturan untuk pengikutnya, maka ia telah menjadi shahibisy syariah (pembuat syariah), maka aku shahibisy syariah karena Dia mewahyukan kepadaku perintah dan larangan. Syariah itu tidak harus membawa hukum-hukum baru, karena ajaran-ajaran yang ada dalam Alquran, ada pula dalam Taurat. Itulah yang diisyaratkan oleh Tuhan.”

“Sesungguhnya hal ini ada dalam lembaran-lembaran yang lalu, lembaran-lembaran Ibrahim dan Musa.” (MGA dalam Arba’in No. 4 h. 6 RK 17/435).

“Dan tidaklah aku ini melainkan seperti Alquran.” (MGA dalam Tadzkirah 688).

Keyakinan Al-Qadiani pada Isa a.s.

“Sesungguhnya aku adalah Al-Masih dan sungguh aku berjalan dan berenang. Dan sesungguhnya Isa telah wafat dan tidak hidup seperti kehidupanmu.” (MGA dalam Tuhfatun Nadwah 1, RK 19/89).

“Adapun turunnya Isa dari langit, kami telah menyimpulkan bahwa itu batil, dalam kitab kami Al-Hamamah. Dan kesimpulannya ialah bahwa kita tidak menemukan hal itu dalam Alquran selain masalah wafatnya (Isa) saja.” (Nurul Haq 1/51, Ainah Kamalat Islam 561, RK 8/69).

“Masalah turunnya Isa Nabi Allah karangan orang-orang Nasrani. Adapun Alquran menjelaskan bahwa (Allah) mewafatkannya dan digabungkan dengan orang-orang mati.” (Khotbah Ilhamiyah 4, RK 16/4).

“Keyakinan akan hidup kembalinya Isa adalah karangan orang-orang Nasrani dan kebohongan mereka. Dan umat Islam yang menyangka bahwa Isa akan turun dari langit tidaklah mereka mengikuti kebenaran dan mereka terjerumus ke dalam jurang kesesatan.” (Khotbah Ilhamiyah 6, RK 16/6).

“Termasuk kurang akhlak jika dikatakan bahwa Isa tidak mati. Ini adalah syirik yang besar. Keyakinan ini menghabiskan seluruh kebaikan dan bertentangan dengan kecerdasan. Ia telah wafat seperti saudara-saudaranya. Ia telah mati seperti orang-orang di zamannya. Keyakinan bahwa ia masih hidup itu ada di kalangan umat Islam, berasal dari orang-orang Nasrani.” (Lampiran Haqiqah al-Wahy, Al-Istifta’ 39, RK 22/660)

Ucapan Al-Qadiani tentang Maryam a.s.

“Tidak ada perbedaan antara khotbah dan nikah di kalangan orang Afghanistan demikian pula di kalanan orang Yahudi. Dan bukanlah aib bagi gadis-gadis untuk bertemu dan bergaul bebas dengan tunangan-tunangan mereka. Buktinya pergaulan bebas antara Maryam dengan tunangannya Yusuf, keduanya berjalan bersama di luar rumah sebelum nikah. Ini adalah bukti benar atas pernyataan tadi.” (Footnote Ayyam as-Shulh 66, RK 14/300).

“Tatkala Maryam bernazar kepada Haekal untuk mengabdi pada Baitul Makdis seumur hidupnya, lalu ia tidak nikah dengan siapa pun sepanjang hayatnya. Namun, tatkala ia hamil satu tahun atau tujuh bulan, lalu para pemuka masyarakat menikahkan Maryam dengan seorang tukang kayu yang bernama Yusuf dalam keadaan hamil. Dan setelah sebulan atau dua bulan ia membawa Maryam ke rumahnya, lahirlah dari rahim Maryam seorang anak dan dialah yang memberinya Isa dan Yesus.” (Jasymal Masihi 26, RK 20/355).

“Isa bin Maryam a.s. bekerja sebagai tukang kayu selama dua puluh dua tahun bersama ayahnya Yusuf.” (Footnote Izalah Awham 125).

“Isa a.s. memiliki empat orang saudara laki-laki dan dua orang saudara perempuan, seluruhnya seibu sebapak, seluruhnya putra-putri Yusuf dan Maryam.” (Footnote Kasyti [Safinah] Nuh 20, RK 12/8).

Ucapan Al-Qadiani tentang Anak Maryam, Ad-Dajal, Ya’juj dan Ma’juj

“Kami berhak untuk mengatakan bahwa putra Maryam, Ad-Dajal, keledai, demikian pada Ya’juj dan Ma’juj, binatang bumi (yang akan muncul menjelang kiamat) belum tersingkap hakikat yang sesungguhnya terhadap Nabi saw. dan beliau belum mengetahui yang sebenarnya.” (Izalah Awham 282).

“Adapun tentang Ad-Dajal, dengarkanlah, aku jelaskan kepadamu hakikat dari kepercayaan ilham. Wahai saudara-saudaraku yang mulia, telah dikasyaf untukku bahwa kesatuan Ad-Dajal bukanlah kesatuan kepribadian, tetapi kesatuan jenis, artinya kesatuan pendapat pada jenis sifat-sifat Ad-Dajal. Hal ini dipahami dari lafaz ad-dajal. Pada nama ini ada ayat-ayat bagi orang-orang yang berpikir. Jadi, yang dimaksud dari lafadz ad-dajal ialah serentetan semangat-semangat dajaliyah yang saling berkaitan.” (Ainah Kamalat Islam 554-555, RK 5/554)

“Tidak ada arti dari Ad-Dajal selain kaum Nasrani. Adapun keledai Ad-Dajal itu ialah kereta api yang diciptakan Nasrani.” (Izalah Awham 279, 297, 298).

Yang dimaksud dengan binatang bumi dalam firman Allah, “Dan kami keluarkan kepada mereka binatang dari bumi” ialah para ulama yaitu jamakatul mutakallimin.” (Izalah Awham, hal 503, RK 3/370).

“Yang dimaksud dengan binatang bumi ialah ulama su’, ulama yang jelek.” (Hamamah al-Bisyra 143, RK7/308).

“Yang dimaksud dengan binatang bumi adalah virus-virus Tha’un.” (Nuzul Almasih 38, RK 18/415).

“Adapun hadis-hadis tentang kedatangan Al-Mahdi, engkau tahu bahwa seluruhnya lemah dan cacat, saling kontradiktif, bahkan ada hadis Ibnu Majah dan kitab-kitab lainnya menjelaskan bahwa tidaklah Al-Mahdi itu selain Isa bin Maryam. Lalu bagaimana kita berpedoman pada hadis-hadis seperti ini.” (Humamah al-Bisyra 148, RK 7/314).

“Yang dimaksud dengan Ya’juj dan Ma’juj ialah Rusia dan Inggris.” (Syahadah Alquran 24, RK 6/320).

Dia mengatakan pula, “Telah ditentukan bahwa Ya’juj dan Ma’juj menjadi bangsa terbesar, yaitu Inggris dan Rusia. Kedua agama inilah yang menguasai orang-orang lemah, bahwa keduanya yang menang karena kekuatan pemberian ilahi.” (Izalah Awham 502, RK 3/369).

Makian dan Kedustaan Besar atas Isa a.s.

“Sesungguhnya Allah mengutus dari umat ini Al-Masih yang lebih besar kemuliaannya dari Al-Masih yang pertama dengan beberapa tingkatan. Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sekiranya Isa bin Maryam hidup pada zamanku ini, niscaya ia tidak dapat melakukan apa yang aku lakukan dan ia tidak sanggup menampakkan ayat-ayat dan bukti-bukti seperti yang aku nampakkan.” (MGA dalam Haqiqah al-Wahy 148, RK 22/152).

“Sesungguhnya Al-Masih pernah minum khamr, mungkin karena penyakit atau kebiasaan lama beliau.” (Footnote Safinah Nuh 65).

“Saya melihat bahwa Al-Masih itu tidak meninggalkan minum khamr.” (Review of Religion 1/172, RK 10/296).

“Sesungguhnya Al-Masih tidak sanggup untuk mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia orang saleh, karena masyarakat mengetahui bahwa ia adalah peminum minuman keras dan berakhlak buruk.” (Sit Bacan, footnote 172. RK 10/296).

“Sesungguhnya keteladanan Al-Masih suci dan disucikan adalah tiga nenek beliau dari ayah dan ibu beliau, seluruhnya wanita nakal dan pezina. Dari darah yang bersih inilah keberadaan Isa, ia terakhir dari wanita-wanita pelacur dan dia bergaul dengan mereka. Dan mungkin karena aib inilah sehingga beliau melarang orang bertakwa disentuh oleh wanita pezina dan dipakaikan minyak rambut oleh wanita pezina dari hartanya yang haram. Hendaklah masyarakat memahami bahwa bagaimana akhlak orang yang seperti ini.” (Footnote Lampiran Injam Atiham, 7 RK 11/291).

“Saya dikena penyakit gula sejak beberapa tahun. Saya kencing sampai seratus kali sehari. Sebagian sahabat saya mengatakan bahwa afion bermanfaat untuk penyakit gula, dan boleh digunakan untuk tujuan pengobatan, lalu saya mengatakan kepadanya, ‘Saya senang kepadamu karena telah menghiburku, namun saya khawatir bahwa saya dimaki oleh orang banyak, lalu mereka mengatakan bahwa Al-Masih yang pertama peminum minuman keras, dan Al-Masih yang kedua pecandu afion’.” (Nasim Dakwah 69, RK 19/434â??435).

“Apakah kamu telah memikirkan jawaban terhadap masalah nenek-nenek dari ayah dan ibu Al-Masih. Saya telah lelah memikirkan hal ini dan belum terlintas di benak saya jawaban yang tepat. Alangkah indahnya Tuhan yang nenek-neneknya dari ayah dan ibunya mempunyai sifat-sifat ini.” (Nurul Alquran 2/13. Footnote 75. RK 29/394).

“Sekelompok wanita cantik duduk sangat dekat dengan Al-Masih seakan mereka itu dibawah ketiaknya. Mereka terkadang memakaikan minyak wangi di belakang beliau. Terkadang pula mereka mengelus-elus kakinya, menyentuhkan rambut mereka yang cantik dan hitan di kakinya, mereka mengelus-elus dadanya, sementara Yesus bersenandung menikmati keadaan ini dan menghardik orang yang menegurnya.”

“Aneh dan sungguh mengherankan! Al-Masih seorang pemuda yang sempurna, pecandu minuman keras, bujang, lalu ia dikelilingi sekelompok wanita cantik, mereka merapatkan tubuh mereka ke tubuhnya. Apakah ini perilaku orang saleh? Apakah buktinya bahwa Yesus tidak terangsang setelah disentuh oleh wanita-wanita tersebut?”

“Sayang sekali Yesus tidak sempat berhubungan dengan istrinya setelah melihat wanita nakal. Bagaimana suasana jiwanya setelah bersentuhan dengan wanita kotor, mereka saling bermain dan mereka mencapai puncak rangsangan syahwat. Itulah sebabnya Yesus tidak sanggup untuk mengatakan, ‘Menjauhlah dariku hai pelacur’.”

“Kitab Injil menjadi saksi bahwa wanita itu adalah pelacur yang terkenal di kota itu.” (Nur Alquran 2/25. RK 9/449).

“Bagaimana sifat-sifat Al-Masih? Ia seorang yang rakus, banyak makan, peminum, bukan ahli ibadah, bukan pula seorang ahli zuhud, tidak taat kepada kebenaran, dia seorang yang sombong, angkuh, dan mengaku sebagai Tuhan.” (RK 9/38. Maktubat Ahmadiyah 3/23. 240. Nur Alquran 219).

“Ya, dialah (Yesus Al-Masih) yang terbiasa banyak memaki dan sangat jelek akhlaknya.” (RK 11/289, lampiran Injam Atiham 5 [foot note]).

“Hendakah disebutkan pula bahwa Yesus Al-Masih itu mempunyai kebiasaan berdusta.”

“Dia, Al-Masih bin Maryam, adalah seorang yang sangat lemah dari semua segi. Ia terlahir dari tempat keluar yang terkenal kotor, tempat keluarnya kotoran besar. Kemudian ia senantiasa lapar dan haus terhadap keluarganya, dan ia selalu membawa penderitaan penyakit.” (Barahin Ahmadiyah 4/369, Footnote RK 21/440).

“Islam tidak mengenal ajaran seperti apa yang ada pada agama Kristen bahwa Tuhan itu terlahir seperti manusia dari perut seorang wanita, makan darah haid sampai sembilan bulan, ia tinggal di dalam tubuh putri Ilyasa, melewati kebiasaan-kebiasaan wanita-wanita pelacur, dia diciptakan sesuai perilaku wanita-wanita nakal itu, dan dia punya hubungan dengan mereka sebagai anak, dan dia diciptakan dari darah, tulang, dan daging ibunya. Bahkan pada kecilnya ia ditimpa penyakit kurus/kurang gizi, penyakit gigi, lalu ia melewati hampir seluruh hidupnya sebagaimana manusia biasa pada umumnya, lalu ia mengaku sebagai Tuhan menjelang kematiannya.” (Sitbacan 173, RK 10/297-298).

“Ibnu Maryam tidak lebih mulia anaknya Kachalia (Ram jenderal seorang buruh).” (Injam Atiham 141, RK 11/41).

“Sifat macho pada laki-laki adalah sifat yang terpuji. Sedang sifat banci bukanlah sifat yang baik. Ia adalah cacat, sama dengan tuli dan bisu. Problemnya ialah bahwa Al-Masih a.s. tidak memberikan contoh yang baik dalam hal hubungannya dengan istri, karena ia tidak diberikan sama sekali sifat kesempurnaan sebagai seorang laki-laki.” (Nur Alquran 2/11, RK 9/392).

Keyakinan Al-Qadian terhadap Desa Kelahirannya

“Sesungguhnya bumi Al-Qadian berhak untuk dihargai, karena menyerang dia sama dengan menyerang tanah haram.” (Durr Tsamin 52).

“Alquran Karim telah menyebutkan tiga nama daerah sebutan penghargaan dan penghormatan, yaitu Mekah, Madinah, dan Qadiyan.” (Footnote Izalah al-Awham 77, RK 3/140).

“Masjid Al-Aqsa ialah masjid yang dibangun oleh Al-Masih yang dijanjikan (MGA), di Al-Qadian.” (Khotbah Ilhamiyah 25, Footnote).

“Al-Qadian adalah ummul qura (pusat bumi) maka barangsiapa yang terputus darinya ia diputuskan dan ditolak, maka hindarilah bahwa kamu diputuskan dan ditolak. Buktinya telah terputus buah-buah Mekah dan buah-buah Madinah, tetapi buah-buah Al-Qadian masih tetap ranum segar.” (Haqiqah ar-Ru’ya 46).

“Sesungguhnya Al-Qadian adalah pusatnya bumi, ia adalah ummul qura, dan tidak mungkin terjadi manfaat apa pun tanpa tempat suci ini.” (Khotbah Jumat yang disampaikan oleh Mahmud Ahmad bin Al-Qadiani di Al-Qadian, disebarkan dalam koran mereka Al-Fadhl 3 Januari 1925 M).

“Sungguh Allah telah menyucikan tiga tempat ini: Mekah, Madinah, dan Al-Qadian. Dan Dia memilih ketiga tempat ini untuk memunculkan cahaya-Nya.” (Koran Al-Fadhl 3 Semptember 1935 M).

“Firman Allah, ‘Siapa yang memasukinya aman’. Yang dimaksud ialah masjid Qadian.” (Al-Qadian mempunyai nama lain, yaitu Darul Aman – Tablig Risalat 6/152).

“Orang yang berziarah ke kubah Al-Masih yang dijanjikan di (Al-Qadian) yang putih, ia mendapatkan berkah yang khusus untuk kubah hijau Nabi di Madinah. Alangkah celakanya orang yang tidak mendapatkan kenikmatan ini dalam haji akbar ke Qadian.” (Koran Al-Fadhl 18 September 1922).

“Apa itu Al-Qadian? Al-Qadian adalah ayat yang besar dari ayat-ayat kebesaran dan kekuasaan Allah, sebagaimana yang dikatakan yang mulia al-Masih yang dijanjikan (Al-Qadian), dan dia juga sebagai tempat kekhalifahan rasul Allah, dan tempat tinggal Al-Masih, tempat kelahirannya dan tempat pemakamannya dan di desa ini tepat penyelamat dunia, pembunnuh Dajal, penghancur salib, pemenang agama Islam atas seluruh agama.” (Koran Al-Fadhl 13 Desember 1939).

“Saya mengatakan kepadamu dengan jujur bahwasanya Allah memberi tahu saya bahwa tanah Qadian mendapat berkah, turun kepadanya berkah-berkah yang sama dengan yang turun di Mekah dan Al-Madinah al-Munawwarah.” (Ucapan putra Al-Qadian, koran Al-Fadhl 10 Desember 1932).

“Sesungguhnya Al-Qadian adalah sumber nikmat dan berkah Allah. Berkah dan nikmat ini tidak turun di tempat lain seperti yang turun di Al-Qadian.”

“Dari Ghulam Ahmad al-Qadiani, ‘Sesungguhnya orang yang tidak datang ke Qadian, saya khawatirkan imannya’.” (Anwar Khilafat 117 oleh putra Al-Qadiani).

“Jika tanah Arab berbangga dengan tanah haramnya, maka tanah Ajam berbangga dengan tanah Al-Qadian.” (Koran Al-Fadhl 25 Desember 1932).

Keyakinan Al-Qadiani tentang Haji **)

“Muktamar tahunan kita adalah haji. Dan sesungguhnya Allah memilih tempat untuk haji di Al-Qadiani terlarang di sana untuk berkata kotor, fasik, dan berbentahan.” (Barbaret al-Khilafat 705 oleh putra Al-Qadiani).

“Tak ada Islam tanpa iman pada Ghulam al-Qadiani dan tak ada haji tanpa kehadiran di muktamar Al-Qadiani. Haji ke Mekah tidak menjalankan misinya dan tidak mencapai tugasnya.” (Koran Al-Qadianiyah Bigham Shulk 19 April 1933).

“Sesungguhnya sekadar tinggal di Al-Qadian saja lebih baik daripada haji sunah.” (Ainah Kamalat Islam 352. RK 5).

Sumber: Al-Qadiani wa Mu’taqaduhu, Asy-Syekh Manzhur Ahmad Chinioti, Pakistani

Keterangan:

**) Di sini perlu ditegaskan bahwa Mirza Ghulam Ahmad selama hidupnya tidak pernah beribadah haji ke Masjidil Haram. Hal yang sama sekali bertolak belakang dengan klaimnya sebagai Al-Masih dan pengikut setia Al-Qur’an. Padahal, tokoh sekaliber Mirza Ghulam Ahmad pada masa itu mustahil tidak mampu mengadakan perjalanan ke Masjidil Haram, apalagi Mirza Ghulam Ahmad mendapat perlindungan khusus dari pemerintah kolonial Inggris oleh karena dia ‘menghapus’ seruan jihad (perang) dalam Al-Qur’an. (Ikhwan)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: