Oleh: antimurtad | April 13, 2009

Kolomnis AS Menulis Tentang Yahudi, Dikecam Yahudi

x45imdRoger Cohen, penulis kolom di surat kabar AS mengaku terkejut dengan reaksi keras komunitas Yahudi di AS dan tidak menduga akan mendapat reaksi sedemikian hebatnya atas kolom yang ditulisnya dan dimuat di surat kabar The New York Times bulan Februari lalu.

Cohen yang juga seorang Yahudi AS menulis tentang negara Iran dalam kolom tersebut, termasuk kehidupan orang-orang Yahudi di Iran. Ia menulis, di Iran terdapat 25.000 orang Yahudi dan Iran adalah negara di Timur Tengah yang komunitas Yahudinya paling besar, setelah Israel. Tapi, orang-orang Yahudi di Iran, tulis Cohen, menikmati sikap toleransi masyarakat Iran. Begitu pula di wilayah-wilayah Arab yang dijajah Israel, masyarakat Yahudi diperlakukan dengan baik oleh komunitas Arab.

Tulisan itu ternyata membuat berang masyarakat Yahudi di AS. Apalagi dalam kolomnya, Cohen mengkritik kebijakan perang yang diterapkan Israel terhadap negara-negara Arab tetangganya sehingga masyarakat Timur Tengah punya alasan untuk membenci Israel.

“Masyarakat Timur Tengah melihat bom-bom Israel, melihat penjajahan Israel di Tepi Barat selama 41 tahun, melihat bagaimana Israel menolak eksitensi Hamas dan melihat bagaiman Israel berulangkali menggunakan kekuatan senjata di wilayah-wilayah tetangganya,” tulis Cohen.

Bukan cuma di AS, tulisan Cohen juga menuai kritik di Israel. Seperti biasa, komunitas Yahudi AS dan Israel langsung memberikan label “anti-semit” pada Cohen dan menuding penulis kolom itu bersikap “permisif” pada Iran.

Surat kabar Israel Jerusalem Post menyebut Cohen telah melakukan “penyesatan”, sementara Atlantic Monthly menyebut Cohen sebagai orang yang “mudah percaya”. Cohen menulis kembali beberapa kolom untuk mempertahankan pendapatnya . Tapi kecaman terhadap dirinya ternyata tidak reda.

“Begitu saya membaca kolom itu, saya berpikir pasti banyak orang yang tidak senang,” kata Jack Lile, profesor bidang jurnalistik di Universitas Lehigh. (ln/iol/eramuslim)

Rabbi Yahudi Inggris “Ahron Cohen” Mencaci Maki Zionis Israel


Dinggris Rabbi “Ahron Cohen” Mencaci Maki Zionis Israel

Rabbi Ahron Cohen, pemimpin Masyarakat Yahudi di Inggris, Neturei Karta, mencaci maki Israel karena berpegang pada persepsi polos dan jahat terhadap rakyat Palestina.

Ia mengemukakan hal tersebut kepada kantor berita IRNA di sela-sela “Konferensi Internasional untuk Mendukung Palestina, Lambang dari Perlawanan, Gaza Korban Kejahatan”,di Teheran, Kamis. Cohen mengemukakan Zionisme berbeda dengan Judaisme.

Dia mencela dan mencaci maki aksi kekerasan Israel terhadap rakyat Palestina dan mengatakan bahwa pendudukan wilayah Palestina bertentangan dengan Hukum Internasional dan agama tak mengizinkan pertumpahan darah rakyat yang tak berdosa sedangkan Israel melakukan aksi itu setiap hari.

Ia mengatakan agama berasal dari Tuhan dan agama adalah jalan hidup saling-menyayangi. Cohen juga mengatakan agama tak ada hubungannya dengan rezim Israel yang punya persepsi jahat terhadap rakyat Palestina.

Israel mesti berhenti, seperti rezim apartheid di Afrika Selatan.” katanya.

Rabbi Ahron Cohen mengatakan para pemimpin agama Yahudi berdoa bagi kemungkinan dilucutinya rezim Zionis secara damai.


Counter Boycott oleh Yahudi Inggris


Boycott oleh German, akibat dominasi yahudi

Apa bisakah bangsa Yahudi tinggal di Eropa? Mendengar pertanyaan ini, sepertinya agak sulit untuk percaya, tapi setelah 70 tahun berlalu dalam ketenangan, apakah memang masih ada tempat untuk eksistensi Yahudi di Eropa? Apakah di tahun 2009 ini, bangsa Yahudi bisa tinggal di daratan ini, dalam sebuah komunitas tersendiri? Jawabannya, tersimpan di balik beberapa kejadian dalam pekan-pekan belakangan ini, negatif.

Sekarang, seorang Yahudi tidak bisa lagi berjalan tenang dengan menunjukan identitas ke-Yahudi-annya. Atau juga tak lagi leluasa mengunjungi institusi Yahudi yang tidak dijaga oleh keamanan dan polisi; mereka harus diam di dalam rumahnya, ketakutan. Mereka akan terus begitu, dan hanya bisa ceria lagi manakala bertemu dengan kolega mereka, di sekolah, atau beberapa tempat lain. Di situlah mereka akan bisa memperlihatkan identitas diri mereka.

Turki, Prancis, dan Inggris seakan berubah menjadi neraka bagi orang Yahudi. Mereka harus menyembunyikan Bintang David dan pakaian unik mereka, dan sinagog sama sekali bukan tempat perlindungan yang baik. Jika kita amati, di Turki atau Itali, setiap toko yang dimiliki oleh orang Yahudi selalu saja dijaga oleh polisi. Perlahan-lahan, bangsa Yahudi dipaksa pada sebuah kenyataan, bahwa mereka adalah suatu kaum yang diasingkan. Pengamat Israel menyimpulkan, Yahudi sekarang; ketakutan, malu, dan patuh.


Perang ekonomi antara Yahudi dgn Pemerintah Jerman mengakibatkan Pengusiran bangsa Yahudi

Kebencian Eropa terhadap orang Yahudi sebenarnya mempunyai akar sejarah ratusan tahun, bukan hanya sekarang saja. Sejak lama di berbagai negara Eropa, bangsa Yahudi mengalami diskriminasi. Penolakan mereka untuk beralih menjadi Kristen menyebabkan mereka dipencilkan dan tidak diterima sebagai warganegara. Mereka dipandang sebagai bangsa ingkar yang sudah dibuang Tuhan, dan dicerca sebagai pembunuh Yesus. Penolakan mereka untuk memuliakan raja menyebabkan patriotisme mereka diragukan. Sedangkan Eropa, hampir separuhnya menganut sistem monarki. Tidak heran kalau mereka dilarang memiliki tanah dan banyak pekerjaan tertutup bagi mereka.

Di abad pertengahan, orang Yahudi hanya boleh tinggal di bagian-bagian khusus kota yang disebut ghetto, perkampungan yang dikelilingi tembok dan gerbangnya dikunci pada malam hari. Penghuni ghetto dilarang keluar pada hari-hari tertentu, misalnya pada hari wafat Isa Almasih.

Kebencian yang tertanam ini sewaktu-waktu meledak menjadi kerusuhan luas berupa penjarahan dan pembantaian. Pada masa Perang Salib pertama tahun 1096, bangsa Yahudi mengalami pembantaian besar-besaran di Lembah Rhein. Pada akhir abad ke-13 orang Yahudi diusir secara besar-besaran dari Inggris,dan pada akhir abad ke-14 dari Prancis. Tahun 1492 pengusiran terbesar terjadi di Spanyol. Kepada orang Yahudi

diberi dua pilihan, beralih memeluk agama Kristen atau angkat kaki. Hampir 150 ribu orang meninggalkan Spanyol, pindah ke negara-negara Islam di sekitar Laut Tengah. Yang tinggal mengalami penindasan karena ternyata hanya berpura-pura memeluk agama Kristen. Banyak diantara mereka yang dihukum bakar.

Keadaan pemeluk Yahudi membaik seiring dengan revolusi dan kebangkitan kapitalisme di Eropa. Tahun 1743 pemeluk Yahudi di Inggris diakui sebagai warganegara. Bahkan di masa Ratu Victoria, seorang Yahudi, Benjamin Disraeli menjadi perdana menteri. Revolusi Perancis mengubah kehidupan orang Yahudi. Untuk pertama kali setelah seribu tahun mereka diakui sebagai warga negara tempat mereka tinggal. Lantas, bagaimana dengan keamanan di negeri-negeri Eropa ini? Jawabannya, lagi-lagi, tidak.

Anti-Semitisme adalah fenomena Eropa, dengan jutaan orang yang sekarang tersebar di daratannya dan memantik konflik dengan Israel dan Yahudi. Krisis ekonomi global menjadi isyu pendukung bahwa Yahudi memang penyebab semuanya. Tren ini berkembang pesat di seluruh dunia bahkan. Kondisi Israel persis seperti dulu lagi yang terpojok.

Setelah Perang Dunia II, Yahudi selalu menempel di negara-negara yang kaya. Tapi sekarang, ini tahun 2009, bukan 1939. Yahudi sekarang mempunyai negara; negara yang kaya dan sukses dengan standar Eropa. Pendapatan per-kapita penduduk Inggris saat ini adalah $39,000, dan Israel, bandingkan, sudah mencapai $29,000! Israel bahkan sekarang sudah menjadi 10 negara terkaya di dunia. Kini, ketika anti-Semit meluas, pemerintah Israel sudah menyerukan semua bangsa Yahudi di Eropa untuk menetap di Israel.

Pemerintah Israel menegaskan pada warganya bahwa mereka memiliki tanah air, jadi mengapa harus menjadi warga negara kelas dua di negeri lain? Mengapa menjadi takut akan identitas Yahudi? Jika saja orang Yahudi mau tinggal di Israel, maka nasib 750.000 anak-anak Yahudi yang tersebar di Eropa Barat akan mempunyai masa depan yang jelas. Inilah tujuan obyektif dari Zionisme. Bukankah ketika datang pertama kali ke tanah ini, Zionisme begitu menginginkan rumah pelindung untuk bangsa Yahudi?

Ketika seluruh dunia mengancam bangsa Yahudi, maka menetap di Israel, tanah rampasan hasil menjajah Palestina, sama sekali bukan masalah bagi bangsa Yahudi, tetapi solusi. (erm/ynet/ant/smedia/swara)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: