Oleh: antimurtad | Juni 4, 2011

Sekjen FUUI: Menag Agar Cabut Penyataan Al-Zaytun Tak Terkait NII

 

Sekretaris Jenderal Forum ‘Ulama Ummat Indonesia (FUUI) Hedi Muhammad  mengatakan bahwa pernyataan Menteri Agama Suryadharma Ali mengenai Al-Zaytun tidak terkait NII, sebagai pernyataan prematur. “Menteri Agama tidak mengkaji terlebih dahulu hasil penelitian Litbang Depag yang justru menemukan hubungan antara NII dengan Al-Zaytun,” tegas Hedi Muhammad yang juga sebagai Koordinator Tim Investigasi Aliran Sesat (TIAS) kepada UmmatOnline.Net di Bandung, belum lama ini.

 

Hedi Muhammad, Sekjen FUUI

Anda dan Menteri Agama sama-sama menyebut hasil penelitian litbang Depag tapi terjadi persepsi yang berbeda, bagaimana ini?

Permasalahannya terletak di sini, yang dimaksudkan “Penelitian Litbang” oleh Menteri Agama amat mungkin hasil penelitian tahun 2002, yang hanya 23 halaman, TIAS menyimpannya dengan baik. Dalam laporan hasil penelitian itu disebutkan bahwa Al-Zaytun, sebagai lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama, tidak terkait dengan NII. Penelitian itu sama sekali tidak komprehensif, dalam arti hanya menyangkut kurikulum dan hal-hal lain sekitar penyelenggaraan pendidikan. Namun perlu dicatat, tahun 2004 muncul hasil penelitian yang benar-benar komprehensif dan ilmiah, pada cover-nya saja tercetak “Ma’had Al-Zaytun Sebuah Gerakan Keagamaan Dalam Perspektif Hermeneutika”, riset dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, bekerjasama dengan Indonesian Institute for Society Empowerment (INSEP), para penelitinya gabungan dari Puslitbang Kementrian Agama, Unissula dan Universitas Indonesia. Hasil penelitian setebal 196 halaman inilah yang saya yakin belum dikaji oleh Menag.

Apa perbedaan isi antara keduanya?

Yang pertama, itulah yang membuat Menteri Agama tanpa ragu berkunjung ke Al-Zaytun, kemudian menyatakan bahwa Al-Zaytun tak terkait NII. Sedang yang kedua amat lain, dari sisi penyelenggaraan pendidikan ditemukan Al-Zaytun berdasar kurikulum standar, memiliki ekstra kurikuler dan modern, di sisi lain Al-Zaytun ternyata berhubungan langsung dengan NII. Hasil penelitian 2004 itu bahkan menegaskan, “Al-Zaytun merupakan satu bentuk tahapan metamorfosa menuju NII”. Disitu dijelaskan bahwa Panji Gumilang dan seluruh aparatur Al-Zaytun adalah jaringan NII. Pendanaan Al-Zaytun yang mengalir dari para Anggota NII ternyata hanya satu bagian yang tersembunyi dari berbagai lipatan misteri. Dengan kata lain Al-Zaytun dan Panji Gumilang memiliki dua wajah.

Tapi pernyataan Menteri Agama sudah kadung keluar.

Oleh karena itu Menteri Agama harus mempertanggungjawabkan pernyataannya tersebut, dengan menyatakan mencabut pernyataan itu, tidak ada jalan lain.

Jika tidak?

Ya berarti Menteri Agama telah melakukan bluring terhadap masalah yang sebenarnya, telah melakukan pengalihan isyu dari masalah yang sebenarnya, yakni NII yang presidennya bersarang di Al-Zaytun; bahwa Al-Zaytun itu “Madinah II” atau Ibu Kota NII, bahwa Al-Zaytun hanyalah topeng indah yang amat meresahkan ini.

Bila Menteri Agama tetap menyatakan bahwa hasil penelitian Litbang Depag yang menjadi dasar pendapatnya itu valid?

Valid menurut siapa? Komprehensif menurut siapa? Apakah Menteri Agama memiliki hak melakukan finalisasi pendapatnya hanya berdasar pada satu hasil penelitian, tanpa merasa perlu mempertimbangkan hasil penelitian lainnya yang terbukti komprehensif? Jangan pula terlalu mudah menyimpulkan bahwa pernyataan kontroversial seorang pejabat itu pasti valid, munculnya kontroversi sendiri sudah menunjukkan kemungkinan invaliditas. Apa lagi ini merupakan dua hasil penelitian yang sama-sama melibatkan Litbang Depag.

Dalam soal Al-Zaytun, selain FUUI siapa lagi yang tidak sependapat dengan Menteri Agama?

Banyak, di antaranya ulama seluruh Indonesia yang berada di Majelis Ulama Indonesia dan seluruh pimpinan pesantren yang tergabung di dalam Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI). Yang menakjubkan adalah pernyataan peneliti utama Balitbang dan Diklat Kemenag Nuchrison M Nuh, pada hari yang sama dengan kunjungan Menag ke Al-Zaytun dia justru mengatakan: “Pengurus Pesantren Al-Zaytun memang terindikasi terkait dengan NII”. Dirjen Bimas Islam Kementrian Agama RI Prof. Nasaruddin Umar juga menyatakan bahwa Kemenag akan terus meneliti Al-Zaytun, berarti penelitian Kementrian Agama belum final. Lantas kena apa Menag berani-beraninya berkunjung ke Al-Zaytun dalam kondisi seperti ini?

Pernyataan Menteri Agama Antilogis

Ketika ditanya apakah Menag menolak hasil penelitian MUI, pihaknya menyatakan tidak menolak, bahkan menjelaskan perbedaan konteks penelitian Litbang Kementrian Agama dengan penelitian MUI.

Ya, Menag menjelaskan bahwa Kemenag menyimpulkan bahwa Al-Zaytun sebagai lembaga pendidikan formal tidak ada kaitannya dengan NII, sementara MUI menyimpulkan bahwa Panji Gumilang sebagai pimpinan Al-Zaytun berkaitan dengan NII. Dengan demikian, pernyataan Menag mengenai Al-Zaytun jadi antilogis. Bagaimana hasil dua penelitian yang saling melengkapi itu bisa disimpulkan secara terpisah? Al-Zaytun-nya sama, Panji Gumilang-nya sama, bagaimana dapat disimpulkan bahwa Al-Zaytun tidak terkait dengan NII-Gadungan? Saya harap Menag lebih realistik, tidak formalistik, agar masyarakat tidak terus-terusan diteror oleh ketakutan akan NII ini. Tapi, ada secercah harapan, dengan menyatakan bahwa Menag tidak menolak hasil penelitian MUI, melainkan hanya berbeda konteks, itu berarti kompromistis, ini dimensi simpatik dari Pak Suryadharma Ali. Kita punya harapan, yang bersebrangan dapat bertemu di titik rasional, lantas saling melengkapi data dan saksi, kalau begitu baru komprehensif betulan!

Langkah apa yang dapat dilakukan untuk menuntaskan kasus NII ini?

Secara positif, marilah kita saling melengkapi. Kata Menag kan harus ada pengujian terhadap sumber informasi, termasuk para guru Ma’had Al-Zaytun. Boleh, Pak Menag ini perlu berapa saksi sih? Kami akan siapkan. Kami ada banyak guru Ma’had Al-Zaytun yang sekaligus pernah menjadi pejabat NII, jadi mereka ini kenal dekat Panji Gumilang sebagai kepala sekolah, juga kenal dekat Panji Gumilang sebagai Presiden NII, wong di antara mereka ada yang dinikahkannya pun oleh Panji Gumilang kok, tapi tentu dengan tata cara NII. Marilah kita kumpul, Kemenag, FUUI, MUI, BKSPPI, INSEP, para mantan Menteri dan pejabat lain dari NII, dan banyak lagi. Mari kita uji para saksi ini, apakah orang sebanyak itu dan datang dari banyak arah semua berbohong? Jadi, fokuslah pada masalah yang dalam masa sekian tahun muncul tenggelam menjadi teror bagi bangsa ini. Masalahnya NII, bukan hanya Al-Zaytun sebagai lembaga pendidikan formal, masalahnya adalah sisi lain Al-Zaytun sebagai pusat NII dan Panji Gumilang sebagai presidennya. Jangan ada pengalihan isyu.

NII Hanya Boneka Politik? Kalau secara negatif maksudnya apa?

Secara negatif, wah, ngeri. Seperti kata Prof. Yusril Ihza Mahendra, juga sekian pengamat lain, NII ini hanya sebuah rekayasa politik untuk kepentingan entah siapa. Jika demikian, berarti NII hanyalah boneka yang pintar menari untuk mengalihkan perhatian kita dari entah apa, si pemilik boneka pegang remote control untuk menggerakkan, mematikan dan menghidupkannya sesuai kepentingan. Sekarang saja ada beberapa partai besar yang asyik saling tuding soal keterlibatan mereka dengan boneka itu, entah apa mereka juga korban pemilik boneka atau ikut nge-charge batere boneka agar tariannya berumur cukup sesuai jadwal? Sekarang saja berapa masalah jadi terlupakan gara-gara NII. Tapi yang jelas, NII telah menjadi teror psikologis yang berat buat rakyat. Rakyat jadi korban. Ngeri lah.

Kalau memang begitu apakah semua hasil penelitian mengenai NII ini sia-sia?

Oh tidak, tidak. Minimal semua ini membimbing kita menuju kedewasaan, sebentar lagi kita nggak suka boneka, kita juga bakal tahu siapa pemiliknya. Justru sekarang ada optimisme bahwa betere boneka bakal habis betulan. Suatu pagi saya bertemu Menag di Bandung, dia berdiri menyambut saya disertai senyumnya yang khas negarawan, sikapnya simpatik, sampai sekarang saya tetap yakin Menag punya hati nurani. Ya, hati nurani itulah kuncinya! Dan, realistik, sekarang para pegiat pers itulah yang paling besar hatinya, nggak peduli resiko, terus berjuang melawan teror psikologis yang sedang membabi buta menyerang bangsa ini. Temen-temen wartawan, kru studio dan para redaksi satu-satunya harapan yang tersisa, sampai-sampai cendekiawan LIPI Asvi Warman Adam, waktu Media Briefing kemarin, merintih sambil memohon: “Media… kejarlah kasus NII hingga tuntas, sampai ke petingi-petingginya.” Ya, petingginya yang paling tinggi itulah yang harus ketemu. Kini saatnya sejarah melahirkan Pahlawan baru! (Bambang Somantri/ummatonline)

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

UmmatOnline.Net – Sekretaris Jenderal Forum ‘Ulama Ummat Indonesia (FUUI) Hedi Muhammad  mengatakan bahwa pernyataan Menteri Agama Suryadharma Ali mengenai Al-Zaytun tidak terkait NII, sebagai pernyataan prematur. “Menteri Agama tidak mengkaji terlebih dahulu hasil penelitian Litbang Depag yang justru menemukan hubungan antara NII dengan Al-Zaytun,” tegas Hedi Muhammad yang juga sebagai Koordinator Tim Investigasi Aliran Sesat (TIAS) kepada UmmatOnline.Net di Bandung, belum lama ini.

 

Hedi Muhammad, Sekjen FUUI

Anda dan Menteri Agama sama-sama menyebut hasil penelitian litbang Depag tapi terjadi persepsi yang berbeda, bagaimana ini?

Permasalahannya terletak di sini, yang dimaksudkan “Penelitian Litbang” oleh Menteri Agama amat mungkin hasil penelitian tahun 2002, yang hanya 23 halaman, TIAS menyimpannya dengan baik. Dalam laporan hasil penelitian itu disebutkan bahwa Al-Zaytun, sebagai lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama, tidak terkait dengan NII. Penelitian itu sama sekali tidak komprehensif, dalam arti hanya menyangkut kurikulum dan hal-hal lain sekitar penyelenggaraan pendidikan. Namun perlu dicatat, tahun 2004 muncul hasil penelitian yang benar-benar komprehensif dan ilmiah, pada cover-nya saja tercetak “Ma’had Al-Zaytun Sebuah Gerakan Keagamaan Dalam Perspektif Hermeneutika”, riset dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, bekerjasama dengan Indonesian Institute for Society Empowerment (INSEP), para penelitinya gabungan dari Puslitbang Kementrian Agama, Unissula dan Universitas Indonesia. Hasil penelitian setebal 196 halaman inilah yang saya yakin belum dikaji oleh Menag.

Apa perbedaan isi antara keduanya?

Yang pertama, itulah yang membuat Menteri Agama tanpa ragu berkunjung ke Al-Zaytun, kemudian menyatakan bahwa Al-Zaytun tak terkait NII. Sedang yang kedua amat lain, dari sisi penyelenggaraan pendidikan ditemukan Al-Zaytun berdasar kurikulum standar, memiliki ekstra kurikuler dan modern, di sisi lain Al-Zaytun ternyata berhubungan langsung dengan NII. Hasil penelitian 2004 itu bahkan menegaskan, “Al-Zaytun merupakan satu bentuk tahapan metamorfosa menuju NII”. Disitu dijelaskan bahwa Panji Gumilang dan seluruh aparatur Al-Zaytun adalah jaringan NII. Pendanaan Al-Zaytun yang mengalir dari para Anggota NII ternyata hanya satu bagian yang tersembunyi dari berbagai lipatan misteri. Dengan kata lain Al-Zaytun dan Panji Gumilang memiliki dua wajah.

Tapi pernyataan Menteri Agama sudah kadung keluar.

Oleh karena itu Menteri Agama harus mempertanggungjawabkan pernyataannya tersebut, dengan menyatakan mencabut pernyataan itu, tidak ada jalan lain.

Jika tidak?

Ya berarti Menteri Agama telah melakukan bluring terhadap masalah yang sebenarnya, telah melakukan pengalihan isyu dari masalah yang sebenarnya, yakni NII yang presidennya bersarang di Al-Zaytun; bahwa Al-Zaytun itu “Madinah II” atau Ibu Kota NII, bahwa Al-Zaytun hanyalah topeng indah yang amat meresahkan ini.

Bila Menteri Agama tetap menyatakan bahwa hasil penelitian Litbang Depag yang menjadi dasar pendapatnya itu valid?

Valid menurut siapa? Komprehensif menurut siapa? Apakah Menteri Agama memiliki hak melakukan finalisasi pendapatnya hanya berdasar pada satu hasil penelitian, tanpa merasa perlu mempertimbangkan hasil penelitian lainnya yang terbukti komprehensif? Jangan pula terlalu mudah menyimpulkan bahwa pernyataan kontroversial seorang pejabat itu pasti valid, munculnya kontroversi sendiri sudah menunjukkan kemungkinan invaliditas. Apa lagi ini merupakan dua hasil penelitian yang sama-sama melibatkan Litbang Depag.

Dalam soal Al-Zaytun, selain FUUI siapa lagi yang tidak sependapat dengan Menteri Agama?

Banyak, di antaranya ulama seluruh Indonesia yang berada di Majelis Ulama Indonesia dan seluruh pimpinan pesantren yang tergabung di dalam Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI). Yang menakjubkan adalah pernyataan peneliti utama Balitbang dan Diklat Kemenag Nuchrison M Nuh, pada hari yang sama dengan kunjungan Menag ke Al-Zaytun dia justru mengatakan: “Pengurus Pesantren Al-Zaytun memang terindikasi terkait dengan NII”. Dirjen Bimas Islam Kementrian Agama RI Prof. Nasaruddin Umar juga menyatakan bahwa Kemenag akan terus meneliti Al-Zaytun, berarti penelitian Kementrian Agama belum final. Lantas kena apa Menag berani-beraninya berkunjung ke Al-Zaytun dalam kondisi seperti ini?

Pernyataan Menteri Agama Antilogis

Ketika ditanya apakah Menag menolak hasil penelitian MUI, pihaknya menyatakan tidak menolak, bahkan menjelaskan perbedaan konteks penelitian Litbang Kementrian Agama dengan penelitian MUI.

Ya, Menag menjelaskan bahwa Kemenag menyimpulkan bahwa Al-Zaytun sebagai lembaga pendidikan formal tidak ada kaitannya dengan NII, sementara MUI menyimpulkan bahwa Panji Gumilang sebagai pimpinan Al-Zaytun berkaitan dengan NII. Dengan demikian, pernyataan Menag mengenai Al-Zaytun jadi antilogis. Bagaimana hasil dua penelitian yang saling melengkapi itu bisa disimpulkan secara terpisah? Al-Zaytun-nya sama, Panji Gumilang-nya sama, bagaimana dapat disimpulkan bahwa Al-Zaytun tidak terkait dengan NII-Gadungan? Saya harap Menag lebih realistik, tidak formalistik, agar masyarakat tidak terus-terusan diteror oleh ketakutan akan NII ini. Tapi, ada secercah harapan, dengan menyatakan bahwa Menag tidak menolak hasil penelitian MUI, melainkan hanya berbeda konteks, itu berarti kompromistis, ini dimensi simpatik dari Pak Suryadharma Ali. Kita punya harapan, yang bersebrangan dapat bertemu di titik rasional, lantas saling melengkapi data dan saksi, kalau begitu baru komprehensif betulan!

Langkah apa yang dapat dilakukan untuk menuntaskan kasus NII ini?

Secara positif, marilah kita saling melengkapi. Kata Menag kan harus ada pengujian terhadap sumber informasi, termasuk para guru Ma’had Al-Zaytun. Boleh, Pak Menag ini perlu berapa saksi sih? Kami akan siapkan. Kami ada banyak guru Ma’had Al-Zaytun yang sekaligus pernah menjadi pejabat NII, jadi mereka ini kenal dekat Panji Gumilang sebagai kepala sekolah, juga kenal dekat Panji Gumilang sebagai Presiden NII, wong di antara mereka ada yang dinikahkannya pun oleh Panji Gumilang kok, tapi tentu dengan tata cara NII. Marilah kita kumpul, Kemenag, FUUI, MUI, BKSPPI, INSEP, para mantan Menteri dan pejabat lain dari NII, dan banyak lagi. Mari kita uji para saksi ini, apakah orang sebanyak itu dan datang dari banyak arah semua berbohong? Jadi, fokuslah pada masalah yang dalam masa sekian tahun muncul tenggelam menjadi teror bagi bangsa ini. Masalahnya NII, bukan hanya Al-Zaytun sebagai lembaga pendidikan formal, masalahnya adalah sisi lain Al-Zaytun sebagai pusat NII dan Panji Gumilang sebagai presidennya. Jangan ada pengalihan isyu.

NII Hanya Boneka Politik? Kalau secara negatif maksudnya apa?

Secara negatif, wah, ngeri. Seperti kata Prof. Yusril Ihza Mahendra, juga sekian pengamat lain, NII ini hanya sebuah rekayasa politik untuk kepentingan entah siapa. Jika demikian, berarti NII hanyalah boneka yang pintar menari untuk mengalihkan perhatian kita dari entah apa, si pemilik boneka pegang remote control untuk menggerakkan, mematikan dan menghidupkannya sesuai kepentingan. Sekarang saja ada beberapa partai besar yang asyik saling tuding soal keterlibatan mereka dengan boneka itu, entah apa mereka juga korban pemilik boneka atau ikut nge-charge batere boneka agar tariannya berumur cukup sesuai jadwal? Sekarang saja berapa masalah jadi terlupakan gara-gara NII. Tapi yang jelas, NII telah menjadi teror psikologis yang berat buat rakyat. Rakyat jadi korban. Ngeri lah.

Kalau memang begitu apakah semua hasil penelitian mengenai NII ini sia-sia?

Oh tidak, tidak. Minimal semua ini membimbing kita menuju kedewasaan, sebentar lagi kita nggak suka boneka, kita juga bakal tahu siapa pemiliknya. Justru sekarang ada optimisme bahwa betere boneka bakal habis betulan. Suatu pagi saya bertemu Menag di Bandung, dia berdiri menyambut saya disertai senyumnya yang khas negarawan, sikapnya simpatik, sampai sekarang saya tetap yakin Menag punya hati nurani. Ya, hati nurani itulah kuncinya! Dan, realistik, sekarang para pegiat pers itulah yang paling besar hatinya, nggak peduli resiko, terus berjuang melawan teror psikologis yang sedang membabi buta menyerang bangsa ini. Temen-temen wartawan, kru studio dan para redaksi satu-satunya harapan yang tersisa, sampai-sampai cendekiawan LIPI Asvi Warman Adam, waktu Media Briefing kemarin, merintih sambil memohon: “Media… kejarlah kasus NII hingga tuntas, sampai ke petingi-petingginya.” Ya, petingginya yang paling tinggi itulah yang harus ketemu. Kini saatnya sejarah melahirkan Pahlawan baru! (Bambang Somantri)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: