Oleh: antimurtad | Juni 18, 2011

Kebohongan Media Barat dan Amerika atas klaim mereka terhadap keberhasilan Jihad Afghan melawan Uni Soviet

Tulisan ini adalah bagian dari buku yang ditulis oleh Abu Mushab As-suri dari buku yang berjudul Da’wah Al-Muqawwamah Al-islamiyyah, Bab : Hashad Ash-Shahwah Al-Islamiyyah wa At-Tayar Al-jihadi (1930-2002) mengenai kebohongan media barat dalam jihad Afghanistan, berikut fakta yang dibeberkan Syaikh Abu Mus’ab As Suri, semoga bermanfaat buat kaum muslimin:

Perlu saya (Abu Mushab As-suri) sampaikan 2 kebohongan besar yang dilakukan media barat dan Amerika khususnya media Arab dan Islam yang mengekor barat. Kebohongan ini harus diklarifikasikan kepada publik secara umum dan kepada aktivis Islam dan aktivis Jihad secara khusus. Dua kebohongan itu adalah sebagai berikut.

a) Peran Amerika dalam kemenangan jihad dan Afghan.

Media Amerika dengan berbagai sarananya –yang dikendalikan oleh zionis dan salibis yang berpikiran zionis— berusaha membuat opini bahwa kemenangan jihad Afghan merupakan kesuksesan kebijakan Amerika dan program-program CIA di Afghanistan. Menyebarnya propaganda palsu ini cukup menguntungkan Amerika.

Mereka bekerja untuk itu melalui berbagai sarana propaganda. Salah satunya dengan film Rambo dengan kisah pertempurannya di Afghanistan. Di film tersebut, Rambo digambarkan dapat menembak jatuh banyak pesawat, menghancurkan benteng-benteng membebaskan para sandera pejuang, baik dari pihak Afghan maupun Amerika.

Si Rambo kemudian naik kuda, mengemudikan kendaraan lapis baja, meliuk-liuk terbang dengan helikopter Rusia. Rambo terluka berulang-ulang, namun tidak mati ia terjebak dalam kendaraan lapis baja namun otot-ototnya itu tidak ikut melepuh!!. Film itu mampu menghujani para penonton yang kagum dengan otot-otot Amerika yang kagum dengan guyuran kata-kata bijak dan propaganda picisan melalui bibir meble Rambo setengah gagu.

Salah satu adegan dalam film propaganda Rambo 3

Di akhir film tersebut, Rambo menyampaikan pesan kasih sayang Amerika terhadap orang-orang lemah, kepeduliannya kepada orang-orang tertindas, kegigihannya untuk membantu kaum muslimin, dan peran kuncinya dalam membantu orang-orang Afghan yang oleh film fiksi itu digambarkan begitu kagum dan cinta kepada Amerika.

Akhirnya, otot-otot Rambo pun kembali ke Hollywood untuk berpesta dan berdansa gila bersama para penyanyi yang cantik-cantik. Sebuah simbol yang memang menggambarkan secara riil tentang Amerika dengan otot-ototnya yang kekar, otaknya yang kerdil, dan bibirnya yang setengah gagu namun suka mengarang-ngarang kata-kata bijak.

Media Amerika dengan sikap meremehkan akal orang yang mempercayainya juga melebih-lebihkan peran roket-roket (stinger) dalam kemenangan jihad Afghan dan bagaimana roket-roket tersebut mampu membalikkan keseimbangan pertempuran. Yaitu, ketika pesawat-pesawat Rusia mulai berjatuhan akibat roket itu. Satu hal yang mengubah jalannya pertempuran dari kalah menjadi menang!.

Kebohongan ini disebarkan media Amerika melalui berbagai media massa dan alat propaganda, mulai dari film dokumenter, buku-buku, surat kabar, hingga buku-buku memoar para perwira intelijen dan lain-lain.

Senjata Stinger dalam Jihad Afghan

Perlu diketahui, sejumlah kecil roket-roket (stinger) Amerika masuk ke Afghanistan setelah 10 tahun penjajaha Rusia dan beberapa saat saja sebelum penarikan Rusia. Alat perang ini jarang sekali digunakan dalam pertempuran-pertempuran yang penting dan hanya sedikit pesawat Rusia yang jatuh olehnya. Dari ratusan ribu mujahid disana, jarang sekali ada yang melihat alat tersebut. Sebagian senjata tersebut malah dicuri oleh intelijen Pakistan. Mereka memang biasa mencuri sebagian bantuan dana dan barang-barang untuk para mujahidin Afghan, seperti mobil, berbagai peralatan SAR, logistik, amunisi, dan senjata yang masuk melalui Pakistan  untuk sampai kepada mujahidin Afghan.

Saya (Abu Mushab As-suri) sendiri tidak bisa mengerti bagaimana akal ini bisa menerima kepalsuan besar tentang roket-roket tersebut dalam kemenangan jihad Afghan. Perang tersebut diikuti berjuta-juta orang Afghan dan selama itu lebih dari sejuta mujahid bersenjata bergabung dalam barisan sebagai kelompok mujahidin. Pada periode itu pula, rakyat Afghanistan mempersembahkan lebih dari 2 juta syuhada dan 5 juta pengungsi, dari negara yang jumlah penduduknya tidak lebih dari 16 juta orang.

Saya (Abu Mushab As-suri) juga tidak bisa mengerti apa peran roket tersebut dalam menghancurkan lebih dari 50 ribu peralatan militer Rusia, membunuh lebih dari 30 ribu prajurit Rusia ditempat itu, dan membunuh lebih dari 150 ribu milisi komunis Afghan pro-Soviet. Belum lagi ratusan ribu operasi serangan selama jihad yang berlangsung lebih dari 15 tahun, dimulai 5 tahun sebelum invasi Rusia dan berlangsung selama 3 tahun sesudah itu hingga ibukota Kabul jatuh ketangan mujahidin, yaitu dari tahun 1973 sampai 1992.

Meskipun kebohongan roket itu begitu picisan dan bertolak belakang dengan informasi paling sederhana yang benar tentang jalannya jihad di Afghanistan, namun kebohongan tersebut tetap dipercaya oleh jutaan penonton televsi dan film layar lebar. Sejatinya, itu adalah sihir media Amerika dan disitulah letak kemenangan Amerika si pengecut dan penipu tersebut. Amerika telah meremehkan mayoritas akal publik, namun sayangnya, mereka percaya begitu saja kepada Amerika !.

b) Tuduhan keterlibatan Mujahidin Arab sebagai agen Amerika dan hubungan mereka dengan CIA selama jihad Afghan.

Program diberbagai media internasional dan Arab saat ini, mulai dari film, wawancara, analisa, surat kabar, buku, dan lainnya memuat kebohongan ini dengan enaknya dan berganti tema seolah itu merupakan sebuah aksioma! (pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian).

Mereka sajikan kebohongan besar kepada publik sebagai suatu hakikat. Isu kebohongan itu adalah badan intelijen Amerika (CIA) lah yang menciptakan sosok-sosok pejuang Arab Afghan dan para pemimpinnya seperti syaikh Abdullah Azzam dan Syaikh Usamah bin Ladin. Tujuannya adalah utnuk menghancurkan Uni Soviet. Sosok ciptaan Amerika ini kemudian malah balik menyerang Amerika. Di antaranya ada yang menghancurkan gedung tower di New York dan Washington. Sementara mayoritas mereka kembali ke negeranya masing-masing untuk menyerang kepentingan-kepentingan Amerika, membunuh rakyat Amerika disana, dan memerangi para penguasa Arab dan Muslim yang pro Amerika…

As Syahid DR. Abdullah Azzam -rahimahullah-

Mereka juga mengklaim, sesungguhnya fenomena jihad bersenjata di negara-negara Arab merupakan titisan dari jihad Afghan. Karenanya, jihad bersenjata itu juga ciptaan intelijen Amerika yang sudah lepas kendali. Mereka juga mengatakan, Amerika telah terjebak dalam keadaan seperti kata pepatah “ siapa yang mencipatakan hantu jejadian dia akan terusir olehnya.”

Lantas, bagaimana sejatinya kepalsuan yang sangat berbahaya ini bagi reputasi jihad saat ini? Biidznillah, saya (Abu Mushab As-suri) akan menjelaskan hal ini melalui poin-poin singkat berikut:

1. Pernyataan bahwa fenomena jihad bersenjata dinegara-negara Arab dari perkumpulan warga Arab Afghan yang berjihad di afghanistan, hakikatnya malah sebaliknya.

Sebenarnya, jihad warga Arab di afghanistan adalah dampak dari adanya jihad warga arab sebelumnya. Inilah salah satu prestasi yang diukir oleh aliran jihadi Arab di negara-negara Arab sendiri dan menjadi salah satu titisan dan bagian dari tahapan perkembangan aliran ini, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Seperti diketahui, aliran Jihadi kontemporer adalah hasil dari ash-shahwah al-islamiyyah (gerakan kebangkitan islam) yang tumbuh pada awal tahun 30-an. Aliran jihadi ini kemudian memisahkan diri dari ash-shahwah al-islamiyyah pada awal tahun 60-an dan awal tahun 80-an. Artinya fenomena itu telah ada 20 tahun sebelum jihad afghanistan.

Para pemimpin, kader, tokoh, dan pilar jihad Arab di Afghanistan sebagian mereka adalah mantan para kader, tokoh, dan syaikh-syaikh aliran jihadi Arab. Sebagai contohnya adalah Syaikh Abdullah Azzam dan Syaikh Usamah bin Ladin. Syaikh Abdullah Azzam merupakan salah satu simbol dan mujahid senior di Palestina. Rezim Yordania telah mengasingkannya dari Amman karena tulisannya tentang jihad dan sikapnya menentang rezim tersebut. Kemudian Syaikh Usamah bin Ladin, ia terdidik dikalangan ash-shahwah al-islamiyyah. Ia mendukung jihad disuria awal tahun 80-an, sebelum pindah ke Afghanistan.

Masih banyak lagi kader yang sulit untuk disebutkan satu persatu dalam buku ini. Mereka adalah para instruktur dan komandan lapangan generasi pertama yang ditugasi untuk mendirikan kamp-kamp dan infrastruktur jihad Arab di Afghanistan. Mereka dulunya adalah kader-kader dari oragnisasi jihad Arab, terutama dari Mesir, Palestina, Suria, Lebanon, Yaman, dan lainnya.

Mereka cikal bakal komunitas Arab yang mengemban tugas di bidang pelatihan, informasi, aksi militer, pertolongan lapangan, dan aktivitas-aktivitas lain. Kemudian, barulah para mujahid generasi baru dari negeri-negeri Arab dan Islam datang secara berangsur angsur. Komunitas yang awalnya hanyalah kelompok kecil pada tahun 1984 lalu bertambah terus sejak tahun 1987 sampai 1991 hingga jumlahnya mencapai 40 ribu mujahidin Arab pada awal tahun 1990-an.

2. Perihal tuduhan tentang hubungan jihad Arab di Afghanistan dengan Amerika dan agen intelijennya. Kalaupun ada, peran para penjahat tersebut (Amerika) adalah sekedar:

1. Memberi izin dan lampu hijau kepada antek-antek mereka pada penguasa Arab dan Muslim untuk mengizinkan para pemuda mujahid untuk menikmati hal yang menjadi haknya dan mengikuti agama untuk pergi berjihad ke Afghanistan.

2. Menghimbau lembaga intelijen di negara-negara tersebut agar membiarkan para pemuda itu pergi menunaikan kewajiban syar’i.

3. Peran media massa pemerintah negara-negara Arab dan Islam juga terbatas hanya mempromosikan Jihad Afghan.

4. Berperan dalam menginstruksikan pemerintah Saudi arabia agar lembaga fatwa bayarannya berfatwa bahwa jihad di Afghanistan hukumnya fardhu ain—memang demikian hukumnya menurut Islam–. Dan, membiarkan para imam dakwah dan ishlah di saudi Arabia untuk angkat bicara mengenai fakta syar’i tersebut.

5. Membuka peluang kepada masyarakat Haramain untuk menunaikan kewajiban jihad harta untuk mendukung sodara-sodaranya seakidah dan seagama.

6. Mendorong para pemuda yang ingin pergi ke Afghanistan, sampai-sampai perusahaan penerbangan Saudi Airlines memberi diskon 75% tiket pesawat dari Saudi Arabia ke Pakistan bagi siapa saja yang ingin pergi berjihad di Afghanistan. Harga yang jauh lebih murah dari penerbangan domestik.

Nyatalah bahwa keluarga Su’ud yang berkuasa memiliki berbagai kepentingan yang bersifat propaganda dan hal lain dari pemberian fasilitas-fasilitas tersebut.

1. Amerika juga berperan dalam menginstruksikan Pakistan agar kedutaannya mempermudah pemberian visa bagi para pemuda-pemuda negara-negara Arab dan Muslim untuk pergi ke Afghanistan via Pakistan.

2. Membiarkan orang-orang Arab bebas bergerak, sekalipun mereka mendirikan kamp-kamp diwilayah Pakistan dekat perbatasan Afghanistan untuk latihan dan penyediaan jasa logistik bagi jihad Afghan. Pakistan dalam hal ini tentu saja memiliki berbagai kepentingan regional dan nasional. Namun bukan tempatnya di buku ini untuk merinci hal tersebut. Lebih dari itu ada juga berbagai kepentingan pribadi dari perwira di tubuh militer, badan intelijen, dan badan kepolisian Pakistanyang mengeruk keuntungan dari adanya arus keluar masuk manusia dan dana yang sangat besar melalui wilayah-wilayah mereka. Jika izin Amerika kepada para sahabat kecilnya itu dianggap sebagai peran Amerika dalam menciptakan jihad Arab di Afghanistan maka peran nya tidak lebih dari itu. Sementara, sahabat kecil Amerika yaitu para penguasa di Saudi Arabia, Pakistan, Mesir dan negara-negara lainnya juga memiliki berbagai kepentingan tersendiri dalam hal ini.

1. Klaim adanya bantuan Amerika kepada warga Arab, baik berupa program maupun aksi militer dilapangan merupakan kebohongan besar!!.

Saya (Abu Mushab As-suri) bertugas sebagai instruktur dibidang pelatihan militer juga sebagai penceramah bidang pemikiran dan manhaj. Saya juga bersentuhan langsung dengan para pemimpin jihad Arab di afghanistan. Dari balik aktivitas itu, saya bisa menyaksikan dan menegaskan bahwa pernyataan Amerika tersebut sangat tidak berdasar.

Disini saya (Abu Mushab As-suri) tidak akan menjelaskan kronologi jihad Arab di Afghanistan sehingga harus menyebutkan satu persatu fakta-fakta dari pelatihan dan mekanisme operasionalnya. Secara ringkas, pelatihan jihad Arab tersebut merupakan kumpulan upaya individu-individu yang dilakukan dengan tulus.

Pelatihan jihad itu mulanya dilakukan oleh kader-kader jihad senior, lalu para kader militer profesional yang telah pensiun atau dipecar dari keanggotaan militer berbagai negara Arab dan Islam. Peran merekalah yang begitu penting dalam pelatihan ini. Setelah itu, pengalaman kader-kader baru dilapangan mulai terus bertambah.

Bagi pemerhati kondisi pemikiran, kejiwaan, manhaj, dan sentimen anti – Amerika, barat dan kuffar secara umum, bahkan anti-penguasa dan anti-cecunguk teri Amerika yang tertanam dihati para pemimpin jihad Arab basis massanya dari kaum muda Afghanistan dan negara lain, akan tahu bahwa klaim-klaim semacam itu tidak ada faktanya dan tidak mungkin terjadi.

Adapun fakta bahwa kepentingan dan tujuan semua pihak yang bersekutu tak langsung adalah demi memerangi Uni Soviet, masing-masing pihak sebenarnya berbeda-beda kepentingan, namun sama dalam satu tujuan. Kenyataan semacam ini memang terjadi dan sering terulang dalam dunia politik sepanjang sejarah.

Kepentingan Amerika adalah ini ingin mengalahkan Uni Soviet dan memenangkan perang dingin. Keinginan ini muncul menyusul pukulan telak yang dilakukan Uni Soviet dan Pakta Warsawa nya kepada Amerika Serikat dalam banyak front. Kasus Afghanistan, bagi Amerika, merupakan kesempatan emas. Dan benarlah, Amerika memanfaatkan kasus ini dengan sangat baik sekali dan mereka mendapatkan apa yang oleh Nixon dalam bukunya yang populer disebut “Kemenangan tanpa peperangan.” Amerika betul-betul meraihnya.

Kepentingan Eropa barat dan negara-negara NATO adalah meraih keuntungan dan membuat dasar pijakan di Afghanistan. Mereka pun ikut serta dalam “pesta” tersebut demi kepentingan negara-negara Eropa secara kolektif dan kadang secara pribadi. Secara nisbi, masing-masing negara Eropa secara kolektif dan kadang secara pribadi. Secara nisbi, masing-masing negara mendapatkan apa yang diinginkan. Saat ini di Afghanistan tersebar berbagai lembaga milik Eropa di bawah kedok lembaga sosial kemanusiaan, namun bertujuan untuk mengambil keuntungan dari tanah Afghanistan. Masing-masing negara mendapatkan hasilnya sesuai dengan lama tidak nya dengan kehadiran mereka di Afghanistan.

Kepentingan Pakistan sendiri adalah ingin mewujudkan kepentingan nasional dan regional, tidak ada tempat rasanya untuk menyebutkan semua kepentingan itu dalam buku ini, bahkan perl buku tersendiri untuk mengungkap hal tersebut. Pakistan mempersembahkan berbagai jasa yang diinginkan Amerika di arena Afghanistan antara lain untuk :

  • Mendukung jihad Afghan
  • Mencabik-cabik hasil jihad itu
  • Menghancurkan Afghanistan dengan perang saudara
  • Menghadapi Taliban dan meruntuhkan negara Taliban
  • Pakistan kini berancang-ancang untuk menjual isu Kashmir
  • Menghancurkan infrastruktur kaum Islamis di negara Pakistan sendiri

Demikianlah, pemerintah Pakistan selalu melaksanakan apa yang diinginkan oleh Amerika. Semoga Alloh melaknat orang-orang Zalim dan munafik.

Kepentingan-kepentingan yang serupa dimiliki oleh negara- negara lain di Afghanistan, Saudi Arabia dengan kepentingannya, Mesir dan negara lainnya. India, negara-negara asia tengah, Iran, Cina dan negara tetangga lainnya yang memainkan perannya. Hingga pun gerakan-gerakan ash-shahwah al-islamiyyah, jihadi, dan setiap orang yang masuk ke dalam kancah Afghanistan. Ada yang beruntung atau rugi. Hal yang sama juga dimiliki oleh berbagai organisasi Arab dan Islam yang hadir di Afghanistan.

Jaji, Paktia Province, Afghanistan, August 1984: Mujahideen with the Quran, candles, rocket launchers and guns

Singkatnya, kasus jihad Afghan menjadi daerah persimpangan berbagai kepentingan internasional dan regional. Jarang sekali fenomena seperti ini akan terulang. Semua kelompok memusuhi Uni Soviet dan masing-masing memiliki niat dan tujuan yang berbeda-beda.

Sedangkan kepentingan-kepentingan berbagai gerakan Islam non-jihadi juga sangat banyak berkisar mulai dari niat baik membantu saudara-saudara seakidah dan agama hingga adanya kepentingan-kepentingan kelompok masing-masing gerakan, seperti keuntungan dakwah, organisasi, material, hingga ada kepentingan-kepentingan pribadi dari berapa gelintir orang.

Lantas apa tujuan aliran jihadi datang ke afghanistan?

Tujuan mayoritas pemimpin dan personelnya, selain jihad, menunaikan kewajiban agama, dan mencari kesyahidan di jalan Alloh, adalah, mewujudkan 2 hal strategis. Saya akan sebutkan keduanya sesuai urgensinya dan menurut pengalaman pribadi karena saya terlibat langsung di dalamnya. Saya adalah anggota dalam aliran jihadi, terutama kelompok yang disebut istilah secara dramatis nan indah. Nama itu adalah Arab Afghan. Dua persoalan strategis tersebut adalah :

  1. Tujuan awal mayoritas satuan, organisasi dan kader jihadi adalah persiapan, latihan perang, mengatur barisan, menghimpunpara kader, perekrutan personel baru, menarik dana sumbangan, dan melatih para anggota organisasi demi menyelesaikan kasus mereka sendiri dinegara masing-masing.
    Tujuan mereka adalah merobohkan rezim-rezim murtad yang berkuasa di negaranya masing-masing dan menegakkan pemerintahan Islam yang berhukum dengan syariah Alloh.
    Itulah tujuan yang mendominasi pemikiran mayoritas atau mungkin keseluruhan organisasi jihad Arab dan non-Arab.
  2. Berupaya membebaskan Afghanistan dan mendirikan pemerintahan Islam yang syar’i di bumi Afghanistan. Tempat itu kelak menjadi titik awal penegakan hukum Alloh di bumi, menjadi tempat berlindung  yang aman dan menjadi pangkalan jihad berbagai musuh Alloh dalam semua persoalan muslimin, mulai kasus Palestina hingga setiap kasus yang berindentitas Islam.

Semua organisasi aliran jihadi bergerak dengan niat 2 hal tersebut, kental tidaknya niat tersebut itu tergantung perbedaan persepsi masing-masing.

Bagi saya pribadi, tujuan yang membawa saya ke afghanistan adalah membangun kembali organisasi jihad dan berupaya meneruskan proyek jihad yang pernah berlangsung di Suriah pada tahun 1975-1982. Proyek itu hancur karena kendala yang telah saya sebutkan dalam buku saya yang berjudul “Ats-Tsaurah Al-Islamiyyah Al-jihadiyah fi Suriya: Alam wa Amal”. Selain itu, karena keyakinan saya terhadap tujuan kedua dan urgensi peran serta saya dalam jihad di Afghanistan. Semoga Alloh menerima amal saya itu, amin. Setelah itu, saya tinggalkan eksperimen jihad Afghanistan dan eksperimen jihad lainnya menuju kejihad global/internasional. Saya datang ke afghannistan pada walnya karena suatu sebabdan cobaan khusus yang terjadi di negara saya.

Apakah komunitas jihad Arab di Afghanistan dengan segala hiruk-pikuk keberadaan mereka bisa mewujudkan tujuannya dengan mengalahkan Beruang Rusia yang keras kepala itu? Menurut saya, sebagaian besar tujuan tersebut telah tercapai. Tetapi, di sini tidak ada ruang untuk memerincinya satu persatu.

Cukup saya katakan disini bahwa keuntungan terbesar yang diraih oleh aliran jihadi dari sebagian eksperimen tersebut adalah sebagai berikut :

  • Meng-globalnya masalah jihad baik secara pemikiran maupun gerakan
  • Terjadinya pertukaran pemikiran dan pengalaman, terjadi perkenalan antara berbagai jihad dari berbagai negara, serta menyebarnya aliran jihad ke berbagai negara di seluruh dunia.
  • Terwujudnya kemenangan militer terbesar kaum muslim dalam sejarah modern.
  • Pembuktian kemampuan Islam dan kaum Muslimin dengan mengalahkan negara adikuasa, meski potensi kedua belah pihak yang berbeda.
  • Mampu menanamkan keyakinan bisa menang di hati umat yang hampir pasrah dengan kekalahan.Masih banyak keuntungan yang lain. Di luar itu semua, ada keuntungan pribadi yang tercapai dengan diterimanya jihad disisi Alloh swt setelah Alloh memuliakan orang yang bisa hadir dan ikut serta dalam jihad itu, lalu berada diantara 2 kemungkinan : gugur atau hidup sambil menunggu janji Alloh.

Adapun kerugian mendasar dari jihad Afghan menurut saya adalah kondisi yang ada dan perhimpunan jihad yang tidak heterogen. Di samping itu, kepemimpinanyang mengatur perhimpunan jihad tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk membangkitkan komunitas atau aliran jihad global yang teroganisasi yang kehadiran dan peranannya akan bisa menyelesaikan berbagai persoalan umat dan  ash-shahwah al-islamiyyah. Padahal, menurut saya, sebenarnya kesempatan untuk membentuk aliansi jihadi internasional terbuka lebar karena situasi dunia yang memungkinkan, juga terkumpulnya sekian banyak pemuda, kader tokoh, dai, dan veteran mujahidin dari berbagai negara, selain tersedianya dana dana berbagai faktor pendukung lainnya. Peluang ini jarang terjadi, namun Alloh menentukan sesuai dengan kehendak-Nya.

Tuduhan media yang menyatakan adanya hubungan antara mujahidin dan CIA  dalam mengahancurkan Uni Soviet merupakan perkataan yang sangat salah!.

______________________

*Dinukil dari Buku karya Abu Mushab As-suri dari buku yang berjudul Da’wah Al-Muqawwamah Al-Islamiyyah, Bab: Hashad Ash-Shahwah Al-Islamiyyah wa At-Tayar Al-Jihadi (1930-2002) atau dalam terjemahan dalam bahasa Indonesianya Perjalanan Pergerakan Jihad (1930-2002), terbitan Jazera(arrahmah)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: